Prof Anggraini mengakui ia dan saudaranya pintar karena dibiasakan membaca koran sejak kecil. Bacaan mereka berat-berat. Kakak pertama diarahkan untuk menjadi panutan dan bertanggung jawab terhadap adik-adiknya lewat prestasi. Sang ayah bisa melihat karakter tiap anak dan mengarahkan pendidikan sesuai potensi.
Bagi Firman, anak perempuan harus maju. Dia mendidik anak-anaknya menjadi perempuan yang mandiri dan dominan.
Meski mendidik dengan tegas, cinta kasih sang ayah begitu terasa. Waktu ia kecil, saat vaksinasi, Firman Talkah selalu ikut mendampingi, meskipun anaknya banyak. Ada yang digendong, ada yang dituntun.
Begitu juga saat latihan Pramuka di kelas 3 SD, Prof Anggraini disuruh berjalan kaki dari rumah di Kampung Malang ke Plaza Surabaya. Dari kecil dia sudah dididik mental dan tanggung jawab.
Sang adik, Prof. Dr. Aktieva Tri Tjitrawati, turut menambahkan kenangan hangat tentang sosok ayahnya. Ayahnya selalu mendampingi setiap hari.
Prof. Eva, sapaannya, mengenang saat mengenyam pendidikan di luar negeri, ia selalu menyempatkan menelepon di jam-jam yang memungkinkan agar tetap bisa berbicara dengan bapak.
Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) Universitas Airlangga Surabaya tersebut merasa ada yang kurang kalau tidak bercerita ke ayahnya.

Keteladanan sang ayah, bahkan tercermin hingga ke generasi cucu. Cinta kasihnya luar biasa. Mungkin karena Firman dulunya yatim piatu, kasih sayangnya dilimpahkan sepenuhnya ke keluarga. Bahkan, dia juga mendampingi anak-anaknya yang kini sudah bergelar profesor hingga merayakan 50 tahun pernikahan.
Kesadaran mereka akan besarnya pengaruh ayah dalam keberhasilan hidup mereka mendorong keluarga ini untuk menulis buku. Buku tersebut menjadi penghargaan, sekaligus berisi refleksi akan warisan nilai-nilai yang ditanamkan, yakni mengenai pendidikan sebagai jalan utama untuk naik kelas sosial, cinta sebagai kekuatan utama dalam mendidik, dan ketegasan sebagai fondasi membentuk karakter.
