Contoh lainnya ialah usaha makanan bernama Angkringan Tanah Jawa yang dibuat oleh Immanuel dan Ade Candra. Saat pelatihan berlangsung, usaha mereka sempat vakum karena ada permasalahan internal. Namun, pasca mengikuti program pendampingan, masalah usaha yang dihadapi teratasi dengan baik karena mendapatkan berbagai masukan terkait dengan operasional dan pengembangan usaha, sehingga Angkringan Tanah Jawa dapat beroperasi kembali di tempat baru.
Begitu pula dengan manfaat yang diperoleh pelaku usaha kuliner Tony Sanjaya. Dia memiliki kedai makanan bernama Aneka Gorengan Suroboyo, tetapi tidak pernah sekalipun memasarkan usahanya di media sosial karena belum memahami cara digital marketing.
Adanya pelatihan dari PT Pegadaian membuat Tony mampu melakukan pemasaran secara digital dan desain untuk konten produk media sosial. Pemateri memberikan masukan untuk memasang papan iklan di gerobak “menerima pesanan snack box untuk acara khitanan, arisan, dan lain-lain”. Saran tersebut kemudian dijalankan, dan membuat Tony memperoleh banyak pesanan untuk acara-acara seperti arisan dan khitanan.
Ketiga kisah para pelaku UMKM disabilitas tersebut menunjukkan adanya peningkatan pendapatan dari masing-masing usaha mereka, sehingga memungkinkan untuk merekrut tenaga kerja dari kalangan difabel pula. Apabila memang belum ada hasil konkret dalam pertumbuhan laba untuk sebagian peserta lainnya, setidaknya ilmu dan relasi yang didapatkan pasca mengikuti pelatihan dari PT Pegadaian bisa dimanfaatkan guna pengembangan bisnis ke depan.
Fokus utama yang bisa dilihat dari program TSJL ini adalah keberhasilan PT Pegadaian untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku UMKM disabilitas, Kendati tidak banyak para penerima manfaat yang mengikuti program tersebut, tetapi upaya meningkatkan kapasitas usaha kaum difabel merupakan langkah penting menuju pembangunan inklusif bagi para penyandang disabilitas. Program ini dapat dikatakan telah mendukung usaha pemerintah dalam mencapai sejumlah Tujuan SDGs, seperti mendorong Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDGs 8).
Di samping itu, keterlibatan para peserta dalam program pemberdayaan UMKM memiliki daya kuat untuk membangkitkan motivasi para pelaku difabel lainnya yang tidak mengikuti pelatihan untuk memahami dan melibatkan diri dalam praktik bisnis.
PT Pegadaian dapat secara berkesinambungan melakukan kolaborasi dengan berbagai mitra yang terlibat dalam proses pemberdayaan para kaum difabel, seperti yayasan sosial Alunjiva Indonesia, guna menyiapkan agenda-agenda selanjutnya terkait pemberdayaan UMKM disabilitas.
Menimbang program TJSL BUMN juga berfokus ke dua bidang prioritas lainnya, yaitu pendidikan dan lingkungan, sangat memungkinkan jikalau PT Pegadaian bisa mengadakan program pemberdayaan kepada para penyandang disabilitas yang mengkombinasikan elemen-elemen tersebut dengan pengembangan UMKM. Dengan demikian, setiap aksi yang dilakukan PT Pegadaian semakin memberikan manfaat besar terhadap kaum difabel di Indonesia.