Laksana univeritas terbuka
Dengan khasanah konten yang tersaji di dalamnya, media sosial tak ubahnya seperti sebuah universitas terbuka. Siapa pun bisa berbagi ilmu dan siapa saja bisa berguru di dunia virtual itu. Ragam konten, mulai dari siniar dengan topik-topik isu hangat, berbagai tutorial dan tips, hingga materi edukasi. Warganet yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan, atau mempelajari cara berkebun, beternak atau memasak, dan lain sebagainya bisa belajar secara daring melalui YouTube, TikTok, SnackVideo juga berbagai platform serupa.
Menyaksikan kerumunan warganet yang betah berlama-lama mengakses medsos, media massa pun berbondong-bondong mengejar audiens ke sana dengan membuat akun-akun resmi medsos. Beragam konten berita diunggah ke medsos dengan harapan mendulang jumlah views yang (juga) fantastis, tapi rupanya tak semudah itu. Seperti diakui juga oleh Abdullah Khusairi.
“Tetapi memang tidak mudah. Hari ini, soalnya adalah sekreatif apakah para jurnalis melawan disrupsi, yang terjadi justru ikut arus, terbawa arus,” kata Eri.
Mantan Pimred Padang-Today itu mensyaratkan sebuah karya jurnalistik haruslah mampu menerangkan, mendeskripsikan, menarasikan, sejernih air di telaga. Mampu membangun argumen dan mengungkap fakta lebih terang dari cahaya.
“Itu tentu kelas berat. Tetapi itulah yang harus dilakukan oleh jurnalis agar mereka tidak dipandang receh oleh para influencer yang memang selalu viral karena mereka punya kreativitas tingkat tinggi,” begitu Eri berharap.
Media massa _termasuk media penyiaran_ di dalamnya, memang idealnya diisi oleh manusia-manusia luar biasa, yang memiliki dedikasi dan totalitas tinggi. Karena ketika profesi sebagai penyaji informasi menjadi inklusif, maka tugas berat jurnalis adalah sebagai pembeda dengan modal profesionalitasnya. Dengan begitu media arus utama juga akan menjelma menjadi “universitas terbuka”, namun kali ini benar-benar diampu oleh para ahli.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ketika siapa saja bisa menjadi pewarta