New York (ANTARA) - Minyak beragam pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena para pedagang menilai risiko pada sisi penawaran dan permintaan, harga didukung oleh kekhawatiran pasokan Rusia akan terus terganggu perang di Ukraina, di sisi lain China tidak menunjukkan tanda-tanda melonggarkan penguncian COVID-19.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik 1,75 dolar atau 1,6 persen, menjadi menetap di 109,34 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni kehilangan 67 sen atau 0,6 persen, menjadi ditutup di 104,69 dolar AS per barel.
Baca juga: Harga minyak reli dipicu laporan Jerman tak menentang embargo minyak Rusia
Untuk minggu ini, WTI dan patokan minyak mentah global masing-masing naik 2,6 persen dan 2,5 persen, berdasarkan kontrak bulan depan dan membukukan kenaikan bulanan kelima berturut-turut. Brent mengakhiri bulan dengan kenaikan 1,3 persen, sementara WTI berakhir melonjak 4,4 persen.
Reaksi pasar di atas terjadi setelah kenaikan tiga hari berturut-turut untuk minyak berjangka, dengan kontrak minyak mentah AS dan Brent masing-masing naik 3,3 persen dan 2,2 persen pada Kamis (28/4/2022).
"Kenaikan sejak kemarin disebabkan oleh meningkatnya kemungkinan embargo minyak Uni Eropa terhadap Rusia sekarang karena Jerman telah berhenti menentang tindakan seperti itu, seperti yang dilaporkan media kemarin," Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan pada Jumat (29/4/2022).