Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, menghadirkan distribusi bahan pangan murah melalui program mobil pangan keliling (Mang Pangling) untuk menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok pada 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Iing Daiman mengatakan program tersebut menjadi salah satu strategi utama dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dalam mendekatkan akses pangan murah langsung ke masyarakat hingga tingkat kelurahan.
“Momentum ini sangat strategis untuk membangun sinergi, kolaborasi, dan konsolidasi dalam pengendalian inflasi karena hal itu menjadi tanggung jawab bersama lintas sektor,” katanya di Cirebon, Selasa.
Ia menjelaskan distribusi pangan keliling dilakukan berbasis kebutuhan warga agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran, terutama terhadap komoditas yang rentan mengalami kenaikan harga.
Menurut dia, upaya pengendalian inflasi di Kota Cirebon juga diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar bersubsidi, pemantauan harga dan stok bahan pokok, hingga penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui Mall UKM.
Ia menyebutkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Cirebon pada April 2026 mengalami deflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Sementara itu, kata dia, inflasi tahunan Kota Cirebon tercatat sebesar 2,75 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 0,97 persen atau masih berada dalam rentang sasaran nasional.
Iing menuturkan pemerintah daerah juga terus memperkuat Kerja Sama Antar Daerah (KAD), guna menjamin pasokan pangan karena daerah tersebut bukan wilayah produsen komoditas utama.
“Setiap pihak memiliki peran strategis. Siapa berbuat apa dan berkontribusi terhadap apa menjadi bagian dari tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Selain distribusi pangan, pihaknya turut memperkuat percepatan digitalisasi transaksi daerah melalui optimalisasi penggunaan sistem digital QRIS dan Kartu Kredit Indonesia (KKI).
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan transaksi menggunakan QRIS di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) selama Januari-Maret 2026 mencapai 64,82 juta transaksi dengan nilai Rp5,63 triliun.
Kota Cirebon, kata dia, menjadi penyumbang terbesar transaksi QRIS dengan porsi 50,63 persen dari total transaksi di wilayah Ciayumajakuning.
Selain itu, ia mengatakan realisasi penggunaan KKI di Kota Cirebon hingga Maret 2026 mencapai Rp2,02 miliar atau tertinggi di kawasan tersebut.
“Secara umum inflasi Kota Cirebon masih berada dalam rentang target. Namun komoditas pangan strategis seperti beras, daging ayam ras, telur, bawang merah, dan cabai merah tetap perlu menjadi perhatian utama,” ucap dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026