Cimahi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, terus mengoptimalkan penggunaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Cicukang, Margaasih, sembari menyiapkan kajian pembangunan Pembangkit Energi Sampah Listrik (PSEL).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Abdul Wahid Fauzy mengatakan bahwa pihaknya saat ini terus fokus melakukan pengolahan sampah dengan basis refuse derived fuel (RDF).
“Untuk PSEL memang belum mencapai keputusan khusus. Saat ini, kami terus fokus mengoptimalkan TPST Oxbow Cicukang untuk RDF dalam mengentaskan masalah sampah, sembari menunggu kajian PSEL,” katanya di Bandung, Senin.
Ia menjelaskan bahwa optimalisasi dilakukan melalui pemanfaatan fasilitas yang sudah ada serta pengembangan lanjutan kawasan Oxbow guna meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di Kabupaten Bandung.
Dirinya juga menambahkan sejumlah fasilitas pada tahap pertama pembangunan TPST Oxbow telah rampung dan mulai dioperasikan, seperti mesin penghancur sampah (shredder), mesin pencacah, conveyor atau ban berjalan pemindah sampah, serta trommel screen sebagai alat penyaring berdasarkan ukuran.
Menurutnya, pengadaan peralatan tersebut merupakan langkah percepatan yang diinisiasi Bupati Bandung untuk memperkuat pemanfaatan aset daerah dalam mendukung peningkatan kapasitas pengolahan sampah.
“Nah, mesin yang ada saat ini merupakan hasil inisiatif Pak Bupati untuk memaksimalkan aset dan mempercepat pengolahan sampah, mengingat urgensi sampah ini butuh cepat diatasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan TPST Oxbow juga terus berlanjut pada tahap kedua dengan fokus akan membangun hanggar tambahan serta menambah unit mesin pengolahan guna meningkatkan kapasitas.
“Kemarin (November) pak Bupati diundang kembali oleh World Bank dan sepakat ada pembangunan tahap dua, ke depan akan ada pembangunan hanggar baru di belakang hanggar eksisting dan penambahan mesin,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala DLH Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana, menyebut pihaknya juga tengah mematangkan usulan pembangunan PSEL di kawasan tersebut sebagai salah satu solusi jangka panjang pengelolaan sampah.
Dirinya mengatakan hal tersebut penting diajukan mengingat volume sampah harian mencapai sekitar 1.820 ton per hari, sementara kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti hanya sekitar 280 ton per hari.
“Produksi sampah sendiri ada di sekitar 1.820 ton per hari sehingga ini menjadi salah satu alasan utama pengajuan PSEL sebagai solusi jangka panjang,” ujarnya.
Dirinya menyebut, kapasitas PSEL masih akan dikaji lebih lanjut oleh Kementerian Lingkungan Hidup, dengan opsi awal sekitar 1.000 ton sampah per hari, dan potensi hingga 2.000 ton per hari sesuai hasil kajian teknis.
“Untuk kapasitas sebenarnya masih dalam kajian, belum ada kepastian apakah 1.000 ton atau bisa lebih. Yang pasti, kami terus mendorong proses ini agar bisa segera berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan fasilitas waste to energy tersebut masih memerlukan tahapan kajian hingga konstruksi, dengan estimasi waktu realisasi sekitar dua tahun.
Pewarta: Ilham NugrahaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026