Bandung (ANTARA) - Bupati Bandung Dadang Supriatna mendorong pemerintah daerah menyusun lini masa aksi nyata dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim supaya bukan sekadar diskusi atau kegiatan seremonial.
“Diperlukan upaya bersama agar masyarakat tidak hanya terfokus pada hiburan, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap ancaman perubahan iklim,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia mengemukakan pentingnya forum strategis untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam merumuskan langkah konkret menghadapi perubahan iklim.
Melalui kegiatan tersebut, Dadang yang juga Ketua Umum Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi itu, berharap pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat sinergi pelaksanaan program lingkungan berkelanjutan.
Ia mengatakan Kabupaten Bandung memiliki peran strategis sebagai salah satu daerah penghasil oksigen yang besar, sehingga upaya menjaga kelestarian lingkungan harus terus diperkuat.
Menurut data Institute for Essential Services Reform (IESR), Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca dibandingkan skenario business-as-usual (BaU) pada 2030 sebagaimana tercantum dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC).
Dalam jangka panjang, Indonesia menargetkan pencapaian kondisi nol emisi bersih (net-zero emission) pada 2060 atau lebih cepat dengan menekan emisi di sektor energi melalui peningkatan efisiensi energi dan transportasi, pengembangan energi terbarukan, pemanfaatan bahan bakar rendah karbon, serta penerapan teknologi penyerapan karbon.
Namun, hingga 2023 Indonesia baru mencapai bauran energi terbarukan sekitar 13,2 persen dari target 23 persen pada 2025 sehingga pemerintah menilai pencapaian visi transisi energi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Dia mengatakan pemerintah pusat telah menetapkan regulasi melalui peraturan Menteri Lingkungan Hidup yang harus ditindaklanjuti secara nyata oleh pemerintah daerah.
“Kegiatan hari ini bukan sekadar pertemuan sesaat, tetapi harus menghasilkan lini masa kegiatan lanjutan yang disepakati bersama,” katanya.
Ia menjelaskan salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan daerah yakni menekan emisi gas rumah kaca dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta mendorong pemanfaatan energi terbarukan sesuai potensi wilayah masing-masing.
Dirinya juga memberikan contoh daerah dengan potensi panas, seperti Kupang, dapat mengembangkan energi berbasis panas, sedangkan wilayah dengan sumber daya air melimpah, seperti di Pulau Jawa, berpeluang mengembangkan energi berbasis air.
Ia juga menyoroti pentingnya penghematan energi melalui kebiasaan sederhana, seperti mematikan lampu saat tidak digunakan.
Menurut dia, edukasi kepada masyarakat menjadi tantangan tersendiri di tengah derasnya arus informasi dan konten hiburan di media sosial.
