Jakarta (ANTARA) -
Psikiater National Hospital Surabaya dr. Aimee Nugroho, SpKJ mengingatkan orang tua untuk memperhatikan tanda-tanda psikologis anak yang belum siap menjalani puasa Ramadan.
Pengenalan puasa yang dipaksakan dapat menimbulkan tekanan emosional dan berdampak pada kesehatan mental anak.
Menurut dr. Aimee, orang tua perlu waspada jika anak menunjukkan perubahan emosi, seperti mudah marah, menangis berlebihan, atau menarik diri dari interaksi sehari-hari. Keluhan fisik tanpa sebab medis, seperti sakit perut, pusing, atau mual, juga dapat menjadi indikator tekanan psikologis.
“Kecemasan berlebihan, misalnya takut gagal puasa, takut dimarahi, atau takut berdosa, juga bisa muncul,” kata dr. Aimee kepada ANTARA, Sabtu (24/1).
Selain itu, perilaku regresif seperti mengompol, tantrum, atau kembali ke tingkah laku lebih kekanak-kanakan, serta penurunan minat belajar dan gangguan tidur, perlu dicermati. Menurut dr. Aimee, tanda-tanda tersebut bukan berarti anak manja, melainkan sinyal bahwa beban psikologisnya melebihi kemampuan anak untuk menghadapinya.
Psikiater tersebut menekankan pentingnya membedakan disiplin sehat dan tekanan psikologis. Disiplin sehat terlihat ketika anak merasa tertantang tapi tetap aman, boleh gagal tanpa takut, mau mencoba lagi keesokan harinya, dan ada rasa bangga, bukan takut.
Sementara itu, tekanan psikologis muncul ketika anak berpuasa karena takut hukuman atau malu, cemas berlebihan menjelang sahur atau berbuka, memaksakan diri meski sangat tidak nyaman, dan mengasosiasikan puasa dengan rasa tertekan.
