Jakarta (ANTARA) - Sebanyak lima orang ilmuwan bangsa berhasil meraih penghargaan bergengsi Habibie Prize atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang ilmu pengetahuan dasar hingga filsafat, agama, dan kebudayaan.
Pada tahun ini, Habibie Prize diberikan kepada Rino Rakhmata Mukti atas kontribusinya dalam pengembangan riset kimia material yang berorientasi pada solusi berkelanjutan di bidang energi dan lingkungan dan Anuraga Jayanegara atas berkat kiprahnya dalam riset nutrisi pakan dan sistem pertanian berkelanjutan berbasis ilmu rekayasa peternakan.
Selanjutnya, Habibie Prize juga diraih oleh R. Tedjo Sasmono atas dedikasinya dalam riset bioteknologi molekuler dan pengembangan sistem diagnosis penyakit infeksi di Indonesia, juga Jimly Asshiddiqie atas kontribusinya dalam pengembangan sistem hukum dan kelembagaan negara yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Di samping itu, ahli tafsir terkemuka Muhammad Quraish Shihab juga turut meraih penghargaan bergengsi ini atas dedikasinya dalam memperkuat dialog antara sains dan agama serta pengembangan pemikiran keislaman yang moderat dan inklusif.
Dalam kesempatan penganugerahan Habibie Prize 2025 di Jakarta, Senin, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan penghargaan ini merupakan legacy dari Presiden ke-3 Indonesia sekaligus salah satu figur ilmuwan bangsa B.J. Habibie sebagai apresiasi bagi para insan-insan Indonesia yang terbaik di bidangnya masing-masing.
"Semua ini memang ditujukan untuk sekali lagi memberikan apresiasi, sekaligus menunjukkan dan mengekspos kepada publik, untuk meningkatkan awareness publik dan menunjukkan kepada publik dan menginspirasi publik, khususnya generasi muda, supaya dia memiliki semangat yang sama, bahkan jauh lebih daripada para penerima penghargaan ini," kata Handoko.
Handoko turut mengapresiasi seluruh peraih penghargaan ini dengan capaiannya masing-masing.
Di antaranya seperti Quraish Shihab yang membuat tafsir Al-Misbah yang kini dikenal mendunia, hingga Jimly Asshiddiqie yang menjadi salah satu inisiator di balik berdirinya Komisi Yudisial.
