Bandung (ANTARA) - Kebaya Sunda menjadi salah satu simbol keanggunan perempuan Jawa Barat yang masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sunda, tidak hanya dalam acara adat, tetapi juga dalam berbagai aktivitas resmi dan perayaan nasional
Berbeda dari kebaya daerah lain, kebaya Sunda menonjolkan kesederhanaan dengan garis potong yang halus dan tidak terlalu banyak bordir atau warna mencolok.
Pemilihan warna-warna netral seperti putih gading, krem, dan pastel menjadi pilihan utama, bukan hanya tentang visual tapi juga melambangkan kesederhanaan, kelembutan, serta kesopanan yang identik dengan nilai-nilai perempuan Sunda.
Hingga saat ini kebaya sunda masih banyak dikenakan dalam upacara pernikahan adat atau hari-hari tertentu seperti hari Kartini sebagai bagian dari pelestarian pakaian daerah.
Selain sebagai busana, kebaya Sunda juga memiliki nilai filosofis lain. Potongannya yang tertutup mencerminkan kesopanan, kehormatan dan keteduhan sikap, sementara motif dan cara pemakaiannya mengandung makna sosial, seperti status pernikahan dan peran dalam masyarakat.
Kebaya yang tertutup bukan hanya sebatas soal estetika, melainkan bentuk penghormatan terhadap tubuh dan martabat perempuan, yang dijunjung tinggi dalam budaya lokal.
Dengan mengenakan kebaya secara rapat dan rapi dinilai sebagai bentuk cerminan dari kedisiplinan dan tata krama. Sementara penggunaan kain penutup atau selendang di bagian bahu melambangkan perlindungan diri dan rasa hormat terhadap lingkungan sosial
Berbeda dengan daerah lain, kebaya Sunda termasuk sebagai pakaian adat yang tidak mengenal kasta karena dapat digunakan oleh seluruh kalangan masyarakat.
Hal ini mencerminkan semangat egaliter yang menjadi bagian dari karakter budaya Sunda-bahwa keanggunan dan kehormatan bukan hak eksklusif, melainkan milik bersama yang dijaga dalam keseharian.
Baca juga: Selamat Hari Kebaya Nasional 2025: Kebaya Sunda, Simbol Anggun Budaya Jawa Barat
Baca juga: Hari ini! Hari Kebaya Nasional 2025, simak sejarahnya
