Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup menguat menyentuh All-Time High (ATH) atau rekor tertinggi sepanjang masa dipicu oleh tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Jepang.
IHSG ditutup menguat 124,49 poin atau 1,69 persen ke posisi 7.469,23. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,31 poin atau 1,06 persen ke posisi 790,44.
"Penguatan indeks bursa kawasan Asia setelah tercapainya kesepakatan dagang antara AS dengan Jepang, menjadi salah satu faktor positif yang mendorong rebound indeks," sebut Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Kesepakatan antara Jepang dan AS mencakup tarif sebesar 15 persen atas barang impor dari Jepang dengan tarif untuk sektor otomotif akan diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen. Selain itu, Jepang akan melakukan investasi senilai 550 miliar dolar AS di AS.
Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ) Shinichi Uchida mengatakan kesepakatan dagang kedua negara telah mengurangi ketidakpastian seputar ekonomi Jepang, sebuah sinyal optimis bahwa kondisi untuk melanjutkan kenaikan suku bunga mulai terbentuk.
Para analis mencatat bahwa kesepakatan dagang mengurangi risiko terhadap ekonomi Jepang yang rapuh, dan memberikan lebih banyak ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga demi melawan inflasi.
Para pejabat tinggi BOJ telah berulang kali mengatakan bahwa mereka perlu merasa lebih yakin bahwa inflasi akan secara berkelanjutan mencapai target 2 persen sebelum menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Setelah mencapai kesepakatan dengan Jepang, AS akan melakukan negosiasi lanjutan dengan Uni Eropa.
De-eskalasi perang dagang menjadi faktor positif, seiring berkurangnya kecemasan terhadap meningkatnya laju inflasi di AS, serta harapan akan penurunan suku bunga acuan oleh The Fed pada tahun ini.
Selain itu, pelaku pasar menantikan pertemuan European Central Bank (ECB) pada Kamis (24/07), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,15 persen di tengah potensi inflasi yang dapat meningkat serta kondisi ketidakpastian akibat tarif impor AS.
