Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan tempat, namun juga perpindahan dari kegelapan menuju era yang terang benderang.
Menag mengutip Al Quran Surah At-Taubah ayat 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih agung derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
"Hijrah dalam ayat ini bukan sekadar berpindah tempat, tapi berpindah arah. Dari gelap ke terang. Dari stagnan ke tumbuh. Dari biasa-biasa saja ke luar biasa dalam nilai dan kontribusi," kata Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis.
"Hari ini, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Sudah sejauh mana kita berhijrah dari rutinitas yang kering makna menuju amal yang bernilai? Sudahkah kita membawa Islam tidak hanya di kartu identitas, tapi juga dalam kejujuran, dalam kasih sayang, dalam tindakan sehari-hari?" lanjut Menag Nasaruddin.
Menurutnya, Tahun Baru Islam tidak datang dengan kemeriahan pesta. Ia hadir dalam sunyi, dalam zikir, dan dalam refleksi yang hening.
Menag menilai hal tersebut merupakan kekuatan dari Tahun Baru Hijriah, dimana perubahan besar sering dimulai dari perenungan yang paling dalam.
"Di banyak daerah di Indonesia, Muharam dirayakan dengan cara yang indah. Ada Tabuik di Pariaman, Grebeg Suro di Jawa, doa bersama di kampung-kampung. Semua itu menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal kita tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan," ujar Menag Nasaruddin umar.
Menag menekankan pihaknya memandang hal tersebut sebagai kekayaan Islam Indonesia, dengan keanekaragaman yang membumi dan mewangi tanpa kehilangan kemurniannya.
