Selama menjadi dalang, dia telah melakukan pementasan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, dia membuat wayangnya sendiri. Namun seiring bertambahnya usia, pembuatan wayang kini dibantu oleh keluarga, termasuk Sadim yang merupakan keponakannya.
 
 
Maestro dalang Ki Warsad Darya di Sanggar Jaka Baru, Indramayu, Jawa Barat. (ANTARA/Suci Nurhaliza)
 
"Mulai mendalang tahun 1962, usia masih 19 atau 18 tahun. Dinamakan Sanggar Jaka Baru, karena waktu itu saya masih jejaka, belum punya istri," kata Ki Warsad Darya.
 
"Se-Pulau Jawa ini sudah keisi semua, paling jauh pentas di Jepang. Tahun 1960-1970-an, satu ada bisa ada 150 pentas," kenang dia.
 
Namun, seiring berkembangnya zaman, Ki Warsad menyayangkan bahwa minat untuk seni tradisi seperti wayang cepak semakin berkurang.

Baca juga: Arus balik Jalur Pantura Indramayu lengang pada Senin siang
 
"Zaman dulu, kalau hajatan itu nanggap wayang. Sekarang sih orang yang mampu (untuk hajat) kadang siang aja (enggak nanggap wayang)," ujar Ki Warsad.
 
Untuk itu, dengan didirikannya Sanggar Jaka Baru, diharapkan seni tradisi termasuk wayang cepak dapat terus lestari dan tidak tergerus zaman.
 
Sebagai informasi, wayang cepak atau wayang papak merupakan kesenian wayang yang berkembang di Indramayu, Cirebon, dan sekitarnya. Perbedaannya dengan wayang golek adalah wayang cepak memiliki bentuk seperti mahkota di kepalanya.
 
Selain itu, lanjut dia, wayang cepak dan wayang golek biasa juga memiliki perbedaan dari sisi cerita dan penokohan.
 
"Satu golek cepak bisa jadi empat (karakter), tidak seperti wayang golek yang satu wayang bener-bener cuma buat satu (karakter) wayang aja. Enggak seperti wayang kulit yang Arjuna ya Arjuna saja. Ini enggak mesti," jelas Ki Warsad.


Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026