Bengaluru, India (ANTARA) - Rupiah Indonesia dan won Korea Selatan memimpin kerugian di antara mata uang Asia pada Rabu, karena prospek pengetatan kebijakan AS mendukung dolar, sementara kerugian di perusahaan teknologi menurunkan indeks acuan Korea Selatan lebih dari satu persen.
KOSPI Korea Selatan mencapai level terendah dalam lebih dari empat minggu ketika saham teknologi kelas berat mencatat kerugian semalam di Nasdaq, yang disebabkan oleh peningkatan imbal hasil AS dan kinerja yang lemah di saham teknologi. Di tempat lain, saham Indonesia dan Singapura masing-masing turun lebih dari 0,5 persen.
Mata uang regional tertekan oleh dolar yang lebih kuat, yang melayang di dekat level tertinggi satu minggu, menjelang rilis risalah pertemuan Federal Reserve AS Desember, yang dapat memberikan lebih banyak petunjuk tentang waktu kenaikan suku bunga.
Dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, karena investor obligasi bersiap untuk kenaikan suku bunga dari Federal Reserve pada pertengahan tahun guna mengekang inflasi yang sangat tinggi.
"Fokus pasar secara umum beralih ke prospek kebijakan yang lebih ketat, dengan kondisi ekonomi yang tangguh sejauh ini mendukung ekspektasi bahwa jalur normalisasi kebijakan akan tetap tidak terpengaruh ke depan," kata Yeap Jun Rong, ahli strategi pasar di platform perdagangan ritel IG.
Investor juga akan fokus pada data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat dan angka penggajian (payrolls) nonpertanian yang diharapkan pekan ini sebagai panduan untuk garis waktu normalisasi. Data yang kuat dapat memperkuat bias hawkish Fed dan lebih lanjut mendukung dolar, kata analis di Maybank.
Di antara unit Asia, rupiah Indonesia dan won Korea Selatan masing-masing turun sekitar 0,5 persen, dengan rupiah menyentuh level terendah dalam lebih dari dua minggu dan won melemah ke level terendah dalam hampir tiga bulan.
