Bogor, 12/7 (ANTARA) - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengemukakan bahwa pihaknya menunggu usulan resmi bagi gelar pahlawan nasional untuk Dr KH Idham Chalid supaya segera diproses.
"Kita semua merasa kehilangan. Karena itu usulan gelar pahlawan nasional harus disampaikan secara resmi dari Pemda tempat kelahiran agar nanti dibahas Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan," katanya seperti disampaikan Tenaga Ahli Bidang Hubungan Media dan Tata Kelola Pemerintahan Drs Sapto Waluyo MSc melalui pesan singkat kepada ANTARA,
Ahad malam.
Ia mengatakan, pihaknya mewarisi kearifan dan konsistensi tokoh sehingga perlu diteliti sejarah hidupnya secara rinci dan dinilai jasanya bagi kehidupan seluruh bangsa, bukan hanya bagi suatu kelompok/organisasi.
Mensos menyatakan turut berbelasungkawa atas wafatnya KH Idhan Chalid. "Almarhum salah satu putra terbaik bangsa, bukan hanya pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan pendiri PPP, tapi juga jadi Ketua DPR/MPR," katanya.
"Beliau sebenarnya telah mendapatkan bintang Mahaputra, sehingga berhak dimakamkan Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, tapi keluarga meminta dimakamkan di Ponpes Darul Quran di Cisarua, Kabupaten Bogor," kata Mensos yang direncanakan sebagai inspektur upacara saat pemberangkatan jenazah di rumah duka pada Senin (12/7) pagi.
Menurut Mensos, KH Idham Chalid adalah contoh figur politisi yang dekat dunia pendidikan dan keagamaan.
Sementara itu, usulan bagi gelar pahlawan untuk Idham Chalid disuarakan dari Bogor, Jawa Barat, tempat di mana almarhum ternyata semasa hidup pernah tinggal lama di Kota Bogor, tepatnya di Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor selama bertahun-tahun.
Tokoh masyarakat Bogor Hasanuddin mengatakan, Idham Chalid yang merupakan seorang pemimpin besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dinilai layak dianugerahi tanda jasa sebagai pahlawan nasional karena sepanjang hidupnya ia telah memberikan yang terbaik
bagi bangsa ini.
Kiai Idham telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini. Kami berharap pemerintah memberikan apresiasi pada putra bangsa yang telah banyak berjuang untuk kepentingan nasional," kata Hasanuddin, tokoh masyarakat Bubulak, Bogor.
Ditegaskannya bahwa tanpa keterlibatan Kiai Idham di kancah pergerakan nasional, Indonesia kemungkinan kini telah berubah menjadi negara dengan faham komunisme.
Pada tahun 1965-1966, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan perlawanan terhadap pemerintah dan merencanakan pendirian negara komunis, Kiai Idham berdiri paling depan sebagai ujung tombak sipil dalam melakukan penumpasan gerakan makar PKI.
"Saya berharap pemerintah menghargai jasa para pahlawannya. Kiai Idham merupakan salah satu pahlawan yang pernah dimiliki Indonesia dan sudah sewajarnya beliau dianugerahi pahlawan nasional," tegasnya.
Sementara itu, aktivis mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Siti Prihatin mengatakan, Kiai Idham merupakan sosok pemimpin besar yang tidak hanya telah berkontribusi maksimal bagi bangsa ini namun selama hidupnya selalu memberikan keteladanan.
"Kiai Idham merupakan sosok pemimpin panutan. Beliau sosok pejuang
yang tulus, lurus dan berani mempertaruhkan apapun untuk kepentingan
bangsa dan agama," katanya.
Untuk itu, kata dia, Kiai Idham layak dianugerahi sebagai pahlawan nasional sebagai penghargaan tertinggi dan terima kasih yang dapat diberikan negara kepada warganya.
Rendah hati
Sementara itu, Ismatul Hakim --yang semasa aktif di GP Ansor di Bogor sempat berinteraksi dengan Kiai Idham Chalid yang kala itu juga tinggal di Ciwaringin--menjelaskan bahwa warga Bogor mengenal Idham Chalid sebagai sosok tokoh besar yang sangat "tawaddu" (rendah hati).
"Beliau sangat dekat dengan warga Bogor. Meski sebagai pemimpin besar, beliau tidak pernah menjaga jarak dalam pergaulan dengan warga Bogor," kata penasihat Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB itu.
Selain itu, lanjut Ismatul, Idham Chalid juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang rajin "turba" (turun ke bawah) untuk menyapa umatnya.
"Saat pak Idham Chalid di Bogor, saya masih muda dan aktif di GP Ansor. Pak Idham sangat mengayomi anak muda dan rajin turun ke bawah," ungkapnya.
Hal lain yang dikenang oleh Ismat, Idham dikenal sebagai sosok tokoh yang berjiwa ikhlas atau tulus dalam berjuang. Teladan tersebut banyak ditiru dan menginspirasi generasi muda Islam.
Sedangkan Dudi Fahmadi, tokoh pemuda Bogor yang juga mantan ketua Daya Mahasiswa Sunda (Damas) mengatakan ulama kharismatik kelahiran Kalimantan Selatan pada tahun 1922 itu menjelaskan bahwa tempat tinggal utama Kiai Idham memang di Cipete, Jakarta, namun juga memiliki rumah di Bogor dan sering tinggal di Bogor.
Menurut dia, semasa Kiai Idham tinggal di Bogor membawa dampak besar pada organisasi yang ia pimpin.
"Ciwaringin menjadi salah satu basis Nahdlatul Ulama (NU) antara lain karena faktor Kiai Idham Chalid, sehingga membuat NU menjadi salah satu partai terbesar di Bogor sejak 1955 hingga berfusi ke PPP pada tahun 1975," katanya.
Dia mengatakan keberadaan Idham Chalid di Bogor membawa dampak signifikan terhadap perkembangan NU. Begitu pula saat NU fusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 1975.
"Kiai Idham Chalid sebagai tokoh pendiri partai berlambang Kakbah tersebut membuat PPP selalu meraih suara signifikan di Bogor," katanya.
Andi Jauhari
