Cianjur (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melakukan sejumlah strategi menghadapi kemarau panjang yang diprediksi akan berlangsung cukup lama salah satunya optimalisasi jaringan irigasi.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Cianjur Dandan Hendrayana di Cianjur, Senin, mengatakan berdasarkan informasi dari BMKG memprediksi kemarau dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dibanding kondisi normal melanda sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Cianjur.
Sehingga berbagai langkah dilakukan termasuk membangun embung hingga penyediaan sumur dangkal di wilayah rawan kekeringan mulai dari utara hingga selatan Cianjur, guna mengairi lahan pertanian dan kebutuhan air bersih warga.
Pompanisasi dan sistem pipanisasi disiagakan untuk membantu distribusi air ke lahan pertanian yang membutuhkan pasokan tambahan selama musim kemarau berlangsung.
“Sejak jauh hari langkah teknis dan mitigasi dilakukan agar kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi saat musim kemarau terutama di daerah rawan kekeringan terutama di wilayah timur dan utara,” katanya.
Pihaknya juga mendorong petani untuk mempercepat masa tanam di wilayah potensial serta menggunakan varietas padi tahan kekeringan serta petani dapat memanfaatkan pupuk organik guna menjaga kelembapan tanah selama musim kemarau.
Termasuk pengaturan pola tanam menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko gagal panen, menghindari pola tanam padi sawah pada puncak kemarau karena berisiko tinggi mengalami puso akibat kekurangan air.
"Berbagai cara dilakukan guna meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2026," katanya.
Bahkan untuk menekan dampak kemarau terhadap produksi pertanian, pihaknya meminta petugas di lapangan melakukan koordinasi menyeluruh serta meningkatkan penyuluh agar dampak musim kemarau dapat ditekan.
"Fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen, dimana kondisi tersebut dapat berdampak pada ketersediaan air untuk lahan pertanian terutama pada bulan Juli hingga September harus diwaspadai," katanya.
Pewarta: Ahmad FikriEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026