Tasikmalaya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat mengajukan revitalisasi irigasi pertanian yang selama 16 tahun dalam kondisi rusak ke pemerintah pusat melalui kebijakan Instruksi Presiden (Inpres) tentang revitalisasi irigasi tahun 2026.
"Insya Allah, kita perjuangkan agar 2027 revitalisasi ini terlaksana," kata Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi usai meninjau langsung Irigasi Ciramajaya di Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, Tasikmalaya, Rabu.
Ia menuturkan, sudah mendapatkan laporan keluhan masyarakat petani di Kecamatan Tanjungjaya terkait Irigasi Ciramajaya yang sudah 16 tahun tidak berfungsi untuk mengairi lahan pertanian di daerah itu.
Asep bersama jajarannya kemudian meninjau langsung pintu air yang kondisinya sudah berkarat sehingga tidak bisa difungsikan untuk mengatur aliran air ke daerah pertanian.
"Kami ingin saluran ini kembali fungsional secara normal," katanya.
Ia mengatakan, pembangunan irigasi itu tujuannya untuk persiapan mewujudkan lahan di daerah itu menjadi sawah produktif, namun sejak 2010 irigasi tidak bisa berfungsi.
Asep mengimbau masyarakat untuk mendukung program revitalisasi agar berjalan lancar, dan juga nanti masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke aliran irigasi karena akan menyebabkan penyumbatan.
"Masyarakat jangan membuang sampah ke selokan irigasi," katanya.
Tokoh masyarakat Desa Cibalanarik, Oos Basor mengatakan, Irigasi Ciramajaya memiliki panjang total 16 kilometer yang membentang dari hulu di Kecamatan Mangunreja hingga berujung di Kecamatan Sukaraja, namun irigasi itu hanya hanya mampu mengalir sejauh 10 kilometer untuk mengairi lahan pertanian.
Oos menyatakan, sudah menyampaikan secara terbuka kepada pemerintah, termasuk Gubernur Jawa Barat untuk memberikan perhatian khusus terkait kebutuhan petani, salah satunya memperbaiki irigasi agar air bisa mengalir ke lahan pertanian.
"Sudah hampir 17 tahun warga Tanjungjaya tidak melihat air mengalir di sini," katanya.
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026