Jakarta (ANTARA) - Penggunaan air conditioner (AC) pada kendaraan kerap dianggap sepele oleh pengendara, padahal sistem pendingin kabin ini memiliki pengaruh langsung terhadap konsumsi bahan bakar, baik pada mobil berbahan bakar bensin, diesel, maupun BBG.
Co-Founder Dokter Mobil, Ko Lung-Lung mengatakan bahwa ketika fitur pendingin dalam kendaraan tersebut dalam kondisi tidak sehat dan terus dipaksakan menyala akan berakibat pemborosan pada konsumsi bahan bakar.
“Kalau tidak dingin dan pemilik terus memaksakan dihidupkan AC itu bisa jadi boros dan itu harus dibawa ke bengkel untuk diperiksakan,” kata Ko Lung-Lung saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan pada dasarnya, sistem AC pada kendaraan bekerja dengan mekanisme yang sama. Komponen utamanya terdiri atas kompresor, kondensor, filter dryer, katup ekspansi, dan evaporator.
Dalam hal ini, komproser memiliki tugas untuk mendorong sirkulasi freon dan oli, sementara kondensor mengubah freon dari gas menjadi cair. Setelah melalui proses filtrasi di filter dryer, freon kemudian diubah kembali menjadi gas di evaporator.
Menurut dia, kinerja freon yang berubah dari cair menjadi gas inilah yang menyerap panas dan menghasilkan udara dingin. Udara tersebut kemudian dialirkan ke dalam kabin melalui hembusan blower, sehingga menciptakan efek pendinginan bagi penumpang.
“Kompresor AC digerakkan oleh mesin kendaraan, sehingga membutuhkan tenaga tambahan. Semakin berat kerja kompresor, maka semakin besar pula beban mesin, yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi BBM,” ujar dia.
Selain itu, beberapa perawatan mesti dilakukan oleh pemilik kendaraan seperti rutin dalam mengganti oli komproser. Menurut dia, idealnya pemilik kendaraan haru rutin mengganti setiap 20.000 kilometer sekali.
Pewarta: Chairul RohmanEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026