Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, menyiapkan kawasan Dukuh Semar di Kecamatan Harjamukti, Cirebon sebagai sentra pedagang bunga yang terintegrasi dengan destinasi wisata religi untuk mendongkrak kunjungan turis di daerah tersebut.
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati di Cirebon, Selasa, mengatakan penataan kawasan tersebut diawali dengan relokasi pedagang bunga dari Kalibaru ke Dukuh Semar.
Ia menyampaikan relokasi dilakukan untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih tertib, serta mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi pedagang kecil.
“Kami memastikan pada awal April 2026 ini proses pembangunan di kawasan Dukuh Semar sudah berjalan sesuai rencana,” katanya.
Menurut dia, area relokasi seluas sekitar 1.100 meter persegi disiapkan dengan 44 kios bagi para pedagang bunga.
Ia memastikan seluruh pedagang yang sebelumnya berjualan di Kalibaru, dapat terfasilitasi dan menempati lokasi baru dengan kondisi lebih tertata.
Selain itu, pemerintah daerah menargetkan pembangunan kios, baik tertutup maupun terbuka, dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan.
Farida menilai kawasan Dukuh Semar memiliki potensi besar, untuk dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru di Kota Cirebon.
“Dari total luas kawasan sekitar 4.400 meter persegi, masih terdapat ruang yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas pendukung lainnya,” katanya.
Ia menyampaikan penataan kawasan tidak hanya difokuskan pada perdagangan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang sosial dan spiritual bagi masyarakat.
Salah satu pengembangan yang dilakukan, kata dia, yakni revitalisasi Masjid Al-Hidayah agar memiliki daya tarik sebagai bagian dari wisata religi.
Pihaknya menggandeng Yayasan H Karim Oei dalam mendukung konsep penataan kawasan, khususnya terkait penguatan fungsi masjid.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon Harry Saputra Gani mengatakan kawasan Dukuh Semar memiliki potensi sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan secara terintegrasi.
“Di sini bisa dikembangkan konsep yang menyatukan perdagangan, ibadah, kuliner, hingga akulturasi budaya,” katanya.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026