Rekam jejak Carrick sebenarnya sudah lama memberi petunjuk. Sebagai caretaker pada 2021, ia menumbangkan Arsenal-nya Arteta, menahan Chelsea-nya Thomas Tuchel 1-1, dan mengalahkan Villarreal-nya Unai Emery di Eropa. Kini, sebagai interim di 2026, skalanya lebih besar. Pep Guardiola, dan lagi-lagi Arteta ditaklukkan.
Namun, narasi ini pernah muncul di era Ole Gunnar Solskjaer, yang kemudian diberi kontrak panjang dan pada akhirnya dipecat juga sebelum MU kembali berjaya. Masalahnya bukan semata siapa pelatihnya, tapi lebih dalam pada struktur klub, yang tak pernah benar-benar dibangun, serta skuad yang terus dipaksa beradaptasi.
Bukan berarti Carrick akan gagal. Juga bukan berarti euforia ini harus dimatikan. Merasa senang itu wajar. Tapi Manchester United sudah terlalu sering berada di titik ini.
Pada akhirnya, mentalitaslah yang membedakan apakah momen ini akan bertahan atau hanya menjadi kilatan singkat. Di situlah warisan Sir Alex Ferguson selalu kembali relevan.
Sir Alex Ferguson pernah kalah di sembilan final, dan setiap kekalahan, katanya, membuatnya menjadi manajer yang lebih baik keesokan harinya.
Kalah adalah bagian dari olahraga. Kalah juga bagian hidupnya. Bagian yang tidak mudah. Tapi, bagian yang membentuk seorang pemenang. Yang membuat Sir Alex Ferguson mengangkat trofi untuk 32 final sisanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DNA Manchester United bersemi lagi
Pewarta: Aditya RamadhanEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026