Saat kemenangan melawan Man City pertengahan Januari lalu, Fergie yang selalu menonton Man United di Old Trafford tersenyum sangat lebar. Dia semringah bukan main.
Untuk mereka yang melihat Manchester United bertanding di era Paul Scholes, Ryan Giggs, Eric Cantona, Carlos Tevez, Dimitar Berbatov, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Cristiano Ronaldo muda, dan Wayne Rooney, maka dua pertandingan terakhir Manchester United di 2026 adalah sebuah lemparan ke masa lalu.
Bertahan super rapat, agresif merebut bola, operan satu dua singkat, umpan ke depan, lari, tembak, dan gol. Sepak bola klasik yang sederhana, jauh dari taktik sepak bola modern nan njlimet. Tidak perlu formasi rumit, atau membangun serangan dari garis belakang. Tidak.
DNA Manchester United, kata para legenda MU, yang dirasa tidak ada pada pelatih dan skuad United beberapa tahun silam, yakni sesederhana hal wajib yang biasa ada di Old Trafford: berlari sekencang-kencangnya ke kotak penalti, berlari mundur secepat mereka menyerang, crossing sederhana yang dikejar dengan niat.
Pola yang nyaris kuno seperti bertahan, mencuri momen, lalu menyerang dengan cepat. Tidak indah di papan taktik, tapi mematikan di lapangan. Ini yang lama hilang, dan inilah yang tiba-tiba kembali.
Energi itu menular dari satu pemain ke pemain lain. Sesuatu yang, seperti kata Wayne Rooney, sudah lama dirindukan suporter.
Michael Carrick
Melawan Manchester City, skor 2-0 bahkan terasa menipu. Serangan United dua kali menghantam mistar. Tiga gol dianulir. Kiper City dipaksa melakukan penyelamatan-penyelamatan yang tak masuk akal.
Yang lebih mencengangkan adalah nol. Ya, nol. Nol tembakan tepat sasaran dari tim yang diperkuat Erling Haaland, Phil Foden, Jeremy Doku. Setelah 23 pertandingan dengan hanya satu catatan nirbobol, United tiba-tiba tampil dengan organisasi defensif terbaik.
Lalu Arsenal. Itu adalah kemenangan liga pertama United di Emirates sejak 2017. Kekalahan kandang pertama Arsenal musim ini. Pertama kalinya dalam 121 pertandingan mereka kebobolan tiga gol. Dua gol Arsenal pun berasal dari gol bunuh diri Lisandro Martinez, dan tendangan sudut dengan cara menumpuk pemain di bawah mistar gawang.
Dan lihat keputusan Michael Carrick di sisi lapangan setelah unggul 2-1. Dia tidak mengubah permainan menjadi bertahan, tapi menambah serangan. Itulah perbedaan mendasar. Manchester United tidak dibesarkan untuk menjaga keunggulan satu gol. Klub ini dibentuk untuk mencari gol berikutnya.
Pewarta: Aditya RamadhanEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026