Bandung (ANTARA) - Pakar Geologi Longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun menyebutkan bencana di Cisarua dan Lembang, Bandung Barat, bukan sekadar longsor biasa, melainkan dipicu jebolnya bendungan alami di hulu sungai yang berpotensi terulang kembali.
Imam menjelaskan bahwa peristiwa yang menerjang Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, serta Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang pada Sabtu (24/1) dini hari tersebut, merupakan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang jauh lebih destruktif daripada pergerakan tanah lokal.
"Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai," ujar Imam di Bandung, Minggu.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa penyebab utama kejadian tersebut adalah terbentuknya sumbatan atau landslide dam di hulu lereng selatan Gunung Burangrang.
Di mana material longsor menutup alur sungai, menahan volume air hingga jenuh, lalu jebol seketika membawa muatan lumpur, pasir, hingga bongkah batu dengan kecepatan tinggi.
Berbeda dengan narasi umum yang hanya menyalahkan alih fungsi lahan, Imam menekankan adanya interaksi faktor alamiah vulkanik tua yang memiliki lapisan pelapukan tebal. Dan saat hujan berdurasi panjang menjenuhkan pori-pori tanah, kekuatan geser lereng menurun drastis hingga materialnya meluncur menutup aliran sungai di hulu.
Imam memperingatkan bahwa ancaman belum berakhir. Karena tim ahli masih menemukan indikasi adanya sumbatan-sumbatan serupa di bagian hulu sungai.
Jika hujan intensitas tinggi kembali mengguyur, akumulasi air di balik sumbatan tersebut berisiko jebol kembali dan mengirimkan kiriman lumpur ke hilir.
Imam mengungkapkan salah satu informasi yang paling dicari, namun jarang diketahui publik adalah tanda visual sebelum bencana terjadi. Karenanya, Imam meminta warga di sepanjang bantaran sungai untuk memantau debit air saat hujan.
"Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut atau menghilang saat hujan lebat, masyarakat harus waspada. Itu menandakan adanya pembendungan di hulu. Segera menjauh dari alur sungai karena air bisa datang tiba-tiba dalam bentuk aliran lumpur," ujarnya.
Imam menekankan bahwa tinggal di sempadan sungai memiliki risiko tinggi terkena aliran debris (debris flow), sehingga mitigasi ke depan tidak boleh hanya fokus pada penghijauan, tetapi harus menyentuh ranah struktural seperti pembangunan debris flow barrier (penghalang aliran) dan sistem pemantauan jalur aliran (flow track) menggunakan geofon atau sensor getaran.
"Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya," kata Imam.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar Geologi ITB sebut bendungan alami picu longsor di Bandung Barat
