Cirebon (ANTARA) - Sejumlah petambak di Cirebon, Jawa Barat, masih setia menggarap lahannya. Mereka mengalirkan air laut, meratakannya, dan menanti mentari memanggang setiap petaknya. Dari ketekunan itulah, asa mewujudkan swasembada garam terus dijaga.
Siang itu, pada akhir Oktober, udara terasa begitu lembap saat ANTARA menyambangi kawasan pantai utara (pantura) di Kecamatan Astanajapura, Cirebon.
Seorang petambak tampak berdiri di tengah lahan garam, mendorong alat penggaruk panjang ke permukaan air asin yang memantulkan awan kelabu.
Matahari tertutup awan meski tak begitu tebal saat itu, sinarnya hanya menembus samar. Sehingga kurang cukup untuk menguapkan air.
Permukaan tambak terlihat seperti kaca tipis. Butiran garam kecil muncul tak beraturan, menandakan proses kristalisasi terhenti di tengah jalan.
Petambak tersebut sesekali menengadah ke arah langit, seolah tahu satu kali hujan bisa menghapus seluruh usahanya yang tersisa.
Bertahan
Berjarak sekitar 8 km dari Astanajapura, wilayah Pangenan di Cirebon menyimpan cerita serupa. Musim kemarau tahun ini tidak sepenuhnya kering.
Curah hujan yang turun hampir setiap bulan selama kemarau mengubah seluruh ritme produksi. Bahkan rob dari laut kerap merendam petakan garam di tepi pantai, yang sudah disiapkan sejak awal musim.
Ismail Marzuki, petani garam setempat, mengaku musim ini menjadi salah satu yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian petambak di wilayah itu memilih membiarkan lahannya terbengkalai karena tidak ada hasil yang bisa dipanen meski modal sudah dikeluarkan.
“Musim ini bisa dibilang musim kemarau basah yang setiap bulannya itu selalu turun hujan. Sehingga produksi garam itu tidak bisa maksimal,” ungkap Ismail kepada ANTARA.
