BP Tapera mencatat tren pembiayaan FLPP fluktuatif dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2022 mencapai Rp25,15 triliun, naik menjadi Rp26,32 triliun pada 2023, lalu turun ke Rp24,57 triliun di 2024.
Hingga 16 September 2025, nilai pembiayaan sudah mencapai Rp22,02 triliun, naik 43,06 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Heru optimistis target 350 ribu unit dapat tercapai di akhir tahun. Pemerintah, kata dia, telah memperluas kerja sama dengan bank swasta seperti BCA, Artha Graha, dan Nobu, serta mendorong percepatan pembangunan oleh asosiasi pengembang.
Ia menambahkan, skema kredit yang ditawarkan meliputi DP 1 persen, bunga flat 5 persen, dan tenor hingga 20 tahun, dengan prioritas untuk MBR dan kepemilikan rumah pertama.
Selain itu, tingkat keterhunian rumah subsidi juga tercatat tinggi. Survei semester I 2025 terhadap 29.966 unit menunjukkan keterhunian mencapai 92 persen, menandakan program perumahan subsidi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: FLPP di Jabar tembus 40 ribu unit, bankability jadi kendala
