Bandung (ANTARA) - Trotoar di sepanjang ruas Jalan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dari arah selatan menuju utara, terpantau dalam kondisi rusak dan tidak ramah bagi pejalan kaki.
Kerusakan tersebut terjadi akibat tidak adanya perbaikan infrastruktur dari dinas terkait dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dari pantauan ANTARA, Kamis, kerusakan trotoar di ruas Jalan Dago sangat memprihatinkan, pasalnya trotoar yang rusak membentang sepanjang sekitar 2,2 kilometer, dengan kondisi yang bervariasi mulai dari permukaan yang retak, berlubang, bergelombang bahkan hingga tidak ada trotoar.
Di beberapa titik, kerusakan semakin parah akibat tambalan dari aktifitas penggalian lubang untuk kabel, yang hanya dilakukan penambalan saja.
"Kasihan yang jalan kaki di sini trotoarnya rusak, terus ada bekas galian kabel disini, sudah ditambal tapi hanya sekedar tambalan biasa saja, seharusnya dirapihkan Kembali," kata Eli, juru parkir..
Ia menuturkan, di sejumlah titik pada trotoar di ruas Jalan Dago, area pejalan kaki dimanfaatkan untuk berjualan bahkan hingga menutup seluruh akses trotoar.
Di sejumlah titik pada ruas Jalan Dago tidak tersedia trotoar sama sekali, sehingga memaksa para pejalan kaki untuk berjalan di tepi jalan yang berdekatan dengan lalu lintas kendaraan. Kondisi ini tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada jam-jam padat kendaraan.
Selain itu, trotoar di jalan tersebut dinilai sangat tidak ramah bagi penyandang disabilitas, mengingat kondisinya yang benar-benar memprihatinkan. Permukaan yang tidak rata, banyaknya kerusakan, hingga minimnya fasilitas pendukung seperti guiding block, membuat akses pejalan kaki, khususnya bagi tunanetra dan pengguna kursi roda, menjadi sangat terbatas dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Akan tetapi, trotoar di ruas Jalan Dago dari arah utara menuju selatan terlihat sedikit lebih rapi dibandingkan titik lainnya. Namun, kondisi tersebut tidak dimanfaatkan sepenuhnya untuk pejalan kaki, karena sebagian area justru dipenuhi kendaraan yang diparkir dan lapak pedagang. Situasi ini membuat fungsi trotoar sebagai jalur aman bagi pejalan kaki menjadi terganggu, sekaligus menambah kepadatan di sekitar area tersebut.
Tidak tersedianya fasilitas tersebut menunjukkan rendahnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan, dalam perencanaan maupun pembangunan infrastruktur publik. Ironisnya, suasana di jalan tersebut sebenarnya terasa nyaman dan teduh.
