Bandung (ANTARA) - Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung mengatakan mereka terus melakukan transformasi digital dan penguatan sistem pendidikan untuk menjawab tantangan di era industri 4.0 serta kebutuhan sumber daya manusia (SDM) industri tekstil yang kompeten.
Direktur Politeknik STTT Bandung R Arief Dewantom mengatakan kini perguruan tingginya secara bertahap telah menyelaraskan kurikulum dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi industri, termasuk melalui penguatan materi pembelajaran di semester 5 dan 6 yang fokus pada transformasi industri 4.0.
"Kalau bicara pengembangan teknologi ke arah 4.0, kami terus berupaya menyelaraskan dan mengembangkan hal itu. Di semester 5 dan 6, kurikulumnya sudah mengarah ke transformasi digital. Kami memberikan pemahaman agar mahasiswa mampu mengimbangi perubahan di dunia industri," kata Arief selepas menerima kunjungan kerja spesifik dari Komisi VII DPR di kampus mereka, Bandung, Senin.
Sejalan dengan penguatan kurikulum, STTT Bandung juga terus memperbarui infrastruktur dan sarana pendukung pembelajaran, termasuk pengadaan mesin dan alat produksi berbasis teknologi terkini.
Proses modernisasi fasilitas tersebut, kata dia, didukung penuh oleh Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI).
"Investasi dalam pengembangan fasilitas terus dilakukan, meskipun secara bertahap. 'Support' dari BPSDMI sangat luar biasa, kami diberikan akses untuk mendapatkan peralatan pendukung pembelajaran sesuai kebutuhan industri," ujar dia.
Dari sisi SDM guna menjawab kebutuhan industri, Arief mengatakan mulai 2025 mereka menargetkan peningkatan jumlah penerimaan mahasiswa menjadi 500 orang per tahun dari sebelumnya berkisar 350-375 mahasiswa.
"Target dari Kementerian dan BPSDMI tahun ini adalah 500 mahasiswa baru. Ini bagian dari upaya melahirkan generasi muda yang siap terjun ke dunia industri," katanya.
Sementara itu, Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Masrokhan mengatakan mengapresiasi kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke STTT Bandung yang dinilainya sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan pendidikan vokasi sebagai pilar utama pembangunan SDM industri nasional.
Masrokhan mengatakan saat ini Kementerian Perindustrian memiliki 13 politeknik dan 9 SMK yang seluruhnya diarahkan untuk mendidik tenaga kerja industri yang kompeten, siap kerja, dan mampu bersaing secara global.
"Alhamdulillah, lulusan kami selama ini langsung diserap industri. Jadi, kami mengajak generasi muda untuk tidak ragu bergabung di sekolah tinggi industri di bawah Kemenperin. Karena SDM yang dihasilkan Insya-Allah berkualitas dan langsung terpakai di dunia kerja," kata Masrokhan.
