Forum yang diikuti lebih dari 36 pimpinan dan delegasi BRICS itu mengkritik standar ganda dalam menanggapi konflik global, termasuk yang terjadi di Timur Tengah, Ukraina, dan Iran.
BRICS juga mengecam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan tanpa dasar legitimasi, serta penggunaan lembaga-lembaga internasional untuk membenarkan tindakan sepihak.
Dalam konteks perang Palestina-Israel, juga disoroti pemanfaatan genosida di Gaza yang sudah tidak bisa lagi ditoleransi, serta menekankan pentingnya solusi dua negara berdasarkan perbatasan tahun 1967.
Krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia juga menjadi sorotan. Banyak wilayah krisis, seperti Haiti, telah ditinggalkan terlalu dini oleh komunitas internasional.
BRICS juga mengusulkan transformasi menyeluruh terhadap Dewan Keamanan PBB, termasuk penambahan anggota tetap dari ASEAN, Amerika Latin, dan Karibia, guna menciptakan sistem yang lebih adil dan representatif.
Dasasila Bandung
Sejak 1955, Dasasila Bandung telah menjadi sumber inspirasi dunia bagi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan perdamaian lewat prinsip agung yang terkandung di dalamnya.
Dalam pleno tertutup di Rio De Janeiro itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan komitmen Presiden Prabowo dalam mendukung perdamaian dunia melalui multilateralisme dan keadilan dalam tata kelola global.
Presiden Prabowo menegaskan menolak perang dan juga penggunaan standar ganda. Bahkan, Indonesia bersama mayoritas anggota BRICS mendorong reformasi multilateral dan keterwakilan global south dalam tata kelola global, khususnya dalam institusi seperti PBB.
