Nama Witana bermakna tanah pembuka. Tempat ini berada di area belakang Bangsal Mande Mastaka, lokasi utama tempat bertahtanya Sultan Kanoman.
Prosesi tawasul di area tersebut menjadi penanda dari rangkaian tradisi pembacaan Babad Cirebon, yang rutin digelar setiap malam 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Pada pukul 20.00 WIB, pembacaan Babad Cirebon dimulai. Suara lantang namun lembut terdengar dari para penutur yang membacakan setiap bait dari naskah babad.

Irama pembacaan diatur pelan, menjaga kesakralan dan ketertiban acara. Naskah yang dibacakan malam itu mengisahkan perjalanan awal berdirinya Cirebon.
Diceritakan bahwa wilayah Lemahwungkuk, salah satu lokasi di daerah ini, awalnya hanyalah kawasan hutan pesisir yang sepi dan nyaris tak berpenghuni.
Perubahan terjadi pada 1445 Masehi bertepatan dengan 1 Suro 1367 Saka atau tahun 866 Hijriah ketika Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, datang ke wilayah itu bersama seorang tokoh bernama Ki Danusela.
Dengan membawa pusaka bernama golok cabang, pemberian Sanghyang Naga dari Gunung Siangkup, keduanya mulai membuka hutan.
Proses pembukaan wilayah ini dilakukan ketika Pangeran Walangsungsang berusia 22 tahun atas bimbingan ulama besar bernama Syekh Datuk Kahfi. Keduanya kemudian membangun Pakuwuan Caruban, yang menjadi cikal bakal pemerintahan pertama di wilayah itu.
Dalam sistem yang dibentuk, Ki Danusela diangkat menjadi kuwu pertama dengan gelar Ki Gedeng Alang-Alang. Pakuwuan ini kemudian berkembang menjadi kawasan pemerintahan yang mandiri dan menjadi dasar terbentuknya Cirebon.
