Selama menjabat sebagai uskup agung, ia dikenal karena tindakannya yang menyentuh: mencuci kaki pasien AIDS -- sebuah tindakan yang mengingatkan pada kisah Yesus yang membasuh kaki para murid-nya.
Kepausan bernafas reformasi
Sejak awal masa kepausannya, Paus Fransiskus membawa suasana yang berbeda. Ia menolak tinggal di Istana Apostolik dan lebih memilih kediaman tamu yang sederhana di Vatikan.
Ia juga menanggalkan banyak protokol formal yang melekat pada jabatan paus, menandai perubahan gaya kepemimpinan yang lebih membumi dan mudah didekati.
Popularitasnya pada masa awal semakin meningkat berkat fokusnya pada reformasi. Ia bergerak cepat menanggulangi korupsi finansial di dalam Vatikan, terutama yang melibatkan Bank Vatikan yang sarat skandal.
Ia merestrukturisasi Kuria -- badan administratif gereja -- dengan merampingkan birokrasi dan meningkatkan transparansi.
Salah satu tantangan terbesar dalam kepemimpinan Paus Fransiskus adalah penanganan skandal pelecehan seksual anak yang melibatkan para imam.
Ia mencopot sejumlah uskup yang dituduh menutup-nutupi kasus pelecehan, serta membentuk komisi khusus di Vatikan untuk menangani isu ini. Namun, para pengkritiknya menilai langkah-langkah tersebut belum cukup -- proses keadilan bagi para korban dinilai berjalan lambat.
Paus Fransiskus juga kerap menyuarakan pendapatnya mengenai isu global di luar lingkup gereja. Ia mengkritik kapitalisme pasar bebas, yang menurutnya “membunuh” kaum miskin.
Ia mendesak pemerintah dunia agar mengambil langkah lebih tegas terhadap perubahan iklim, dan menjadi pembela hak-hak migran -- bahkan pernah membandingkan pusat-pusat penahanan migran di Eropa dengan kamp konsentrasi. Pernyataan-pernyataan itu memicu kritik dari kalangan politisi konservatif dan para pemimpin bisnis.
