ANTARAJAWABARAT.com, 9/3 - Para pemanah PON XVIII/2012 untuk ronde nasional dipastikan meninggalkan busur dan anak panah berbahan bambu karena beralih menggunakan busur komposit atau berbahan baku campuran yang lebih modern.
"Pada PON XVII/2008 lalu ronde nasional masih menggunakan busur bambu, khas dengan ronde nasional. Kalau busur komposit seperti ini tidak lagi bisa disebut busur ronde nasional," kata Pelatih Panahan PON XVIII/2012 Jawa Barat Asep Rahmat di sela-sela latihan atlet pahanan Jabar di Bandung, Jumat.
Menurut Asep penggunaan busur berbahan komposit masih kontrovesi karena tidak lagi menggunakan bahan kayu seperti PON-PON sebelumnya. Komposit bow itu didatangkan dari Korea dengan kekuatan yang lebih besar dan terarah.
Sempintas busur ronde nasional sama, karena handlenya masih tetap menggunakan handel kayu. Namun bagian busurnya menggunakan komposit. Selain itu anak panahnya juga tidak lagi menggunakan anak panah dari bambu melainkan terbuat dari alumunium.
"Handlenya masih tetap buatan Indonesia karena kayu kita lebih bagus, namun busurnya menggunakan komposit bow dari Korea. Belum ada yang bisa buat sesuai standardnya," kata Asep.
Dengan komposisi busur seperti itu, kata Asep nyaris tidak ada bedanya dengan dengan ronde nasional. Hanya saja dari sisi harga busur dan panah ronde nasional lebih murah yakni Rp6 juta-an, sedangkan busur ronde FITA mencapai Rp30 jutaan.
Menurut Asep, penggunaan busur komposit dan anak panah berbahan alumunium itu baru akan digunakan di PON XVIII/2012 Riau. Sedangkan pada PON XVIII/2012 di Kaltim masih menggunakan bahan bambu, dimana Jawa Barat mampu mendulang medali dari nomor ronde nasional itu.
"Pengaruhnya bagi atlet pasti ada, namun jauh lebih menguntungkan karena lebih nyaman dipakai. Meski kontroversi namun tampaknya sekarang trend ronde nasional sudah bergeser, dan diperbolehkan oleh PB Perpani," kata Asep.
Sementara itu Jawa Barat yang berhasil meraih tiga keping emas pada PON XVII/2008 di Kaltim, menargetkan tiga medali emas pada PON XVIII/2012. Namun menurut Asep cukup berat, karena hanya memperebutkan 12 medali emas, atau setengah dari medali emas yang diperebutkan pada PON Kaltim.
"Tidak ada lagi nomor jarak di panahan, tidak ada lagi ronde tradisional karena diganti ronde compound, selain itu dipastikan tidak akan ada lagi busur bambu," katanya.
Jawa Barat merupakan daerah yang memiliki tradisi kuat pada ronde nasional, terutama di beregu putra. Namun dengan peralatan baru, terutama perubahan busur komposit membuat persaingan menjadi lebih merata.***3***
