ANTARAJAWABARAT.com, 10/12 - Pemkab Bandung akan "menyulap" sekitar 400 hektare sawah menjadi danau buatan untuk mengeliminasi bencana banjir yang melanda bagian timur daerah ini, antara lain Kecamatan Rancaekek, Baleendah, Majalaya dan Dayeuhkolot.
         "Jadi dengan adanya danau buatan, air dari hulu tidak langsung ke Citarum, melainkan masuk dulu ke danau. Itu sudah direncanakan secara matang oleh eksekutif," kata anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bandung H Asep Anwar Jumat.
         Pembuatan danau tersebut, lanjut Asep,  termasuk dalam rencana pembangunan Kota Baru Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang dan semuanya sudah masuk dalam RPJP Kabupaten Bandung, yang baru mampu menyediakan lahan, meski belum terjadi pembebasan lahan.
         Asep berharap, rencana pembangunan Kota Baru Tegalluar, mampu menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bandung, karena tidak mungkin kalau hanya mengandalkan APBD setempat.
         ANTARA memantau, meski lahan untuk pembangunan Kota Baru Tegalluar saat ini dinyatakan status quo, sejumlah pabrik dan bangunan lainnya sudah berdiri di sana.
         Saat ini di kawasan tersebut sudah berdiri sekitar 60 pabrik, yang tersebar di  daerah Kecamatan Rancaekek, Majalaya, Paseh, Cicalengka, dan Kecamatan Solokan Jeruk, tanpa izin.
         Sementara pengusaha yang enggan disebut namanya membantah telah melakukan penyerobotan lahan yang dinyatakan status quo tersebut, karena sudah mengantongi rekomendasi dari pejabat terkait dan DPRD Kabupaten Bandung.  
    Sementara data di Dinas Perumahan Penataan Ruang dan Kebersihan (Dispertasih) Kabupaten Bandung, pembangunan kawasan itu meliputi empat kecamatan, yakni Bojongsoang seluas 639 hektar, Cileunyi 442 hektar, Rancaekek 1.026 hektar, dan Kecamatan Solokanjeruk 903 hektar.
         Konsep pembangunan kawasan kota baru, menurut  Kepala Bappeda Kabupaten Bandung, Ernawan Mustika, sesuai dengan Rencana Detil Tataruang Kecamatan (RDTRK) Bojongsoang.
        Ia memaparkan, di kawasan tersebut rencananya dibangun sektor unggulan industri, perdagangan dan jasa, pariwisata, pertanian dan hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan, dan pembangunan sektor pendidikan.
         "Tapi semua itu akan memakan waktu lama, karena pembangunannya membutuhkan dana yang sangat besar," ujarnya.

ayi k


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026