ANTARAJAWABARAT.com, 21/6 - Pemerintah Kota Bogor memberikan penghargaan kepada tiga budayawan dan seniman yang berkiprah memberikan pengabdian, prestasi, dan karya di bidangnya masing-masing.
"Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah kota karena ketiga tokoh ini telah berjasa dalam bidang masing-masing," kata Wali Kota Bogor Diani Budiarto dalam siaran pers Humas Pemkot Bogor, Senin.
Ketiga tokoh tersebut adalah alm Uka Tjadrasasmita yang berprofesi sebagai arkeolog, alm M A Salmun sebagai Budayawan, dan alm Entah Lirayana seorang dalang.
Peberian penghargaan untuk tiga tokoh tersebut diserahkan langsung kepada keluarga masing-masing penerima oleh Wali Kota Bogor Diani Budiarto pada malam Insan Budaya dalam rangkaian memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-529 di Gedung Kemuning Gading.
Selain memberikan penghargaan kepada tiga budayawan dan seniman, Wali Kota Bogor Diani Budiarto juga menyerahkan penghargaan kepada seniman Ade Suwarsa dan lembaga seni Depokersen.
Ketua panitia Hari Jadi Bogor ke-529 Ade Syarif Hidayat mengatakan, pemberian anugrah kepada para tokoh budayawan dan seniman menjadi agenda resmi dalam memperingati HJB.
Ade mengatakan, dipilihnya ketiga tokoh tersebut karena memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap pembangunan Kota Bogor di bidang seni dan budaya.
"Bogor berkaitan erat dengan seni budaya dan sejarah. Ketiga tokoh ini memiliki kontribusi besar dalam pengembangan Kota Bogor," kata Ade.
Rincian kiprah ketiga tokoh tersebut adalah, almarhum Uka Tjandrasasmita lahir di Kuningan 8 Oktober 1930, dan wafat di Bogor pada 20 Mei 2010. Arkeologi Islam merupakan bidang yang ditekuninya dan ia sempat cukup lama menjadi dosen di jurusan Arkeologi Universitas Indonesia, di samping kesibukannya di Ditjen Kebudayaan Depdikbud.
Ia juga sempat menjadi Direktur Perlindungan dan Pembinaan Sejarah Purbakala Ditjen Kebudayaan, dan banyak melakukan penelitian khususnya di situs-situs peninggalan Islam di Indonesia.
Sejumlah buku telah ditulisnya, bahkan hingga usia senja ia masih meluangkan waktu menulis sebuah buku mengenai Arkeologi Islam. Buku terakhirnya berjudul "Arkeologi Islam Nusantara" merupakan kumpulan tulisannya.
Buku berisi 23 naksah karya Uka dibagi dalam tiga bab, yakni Arkeologi Islam dan Dinamika Kosmopolitanisme, Arkeologi Islam dan Dinamika Lokal di Nusantara dan Arkeologi Islam dan Penaskahan Nusantara.
MA Salmun nama lengkapnya adalah Mas Atje Salmun Raksadikaria lahir di Rangkasbitung pada 23 April 1903 dan wafat di Bogor pada 10 Pebruari 1972.
Salmun dimakamkan TPU Blender Kebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal. Semasa hidupnya Salmun dikenal sebagai sastrawan generasi 1920an yang paling produktif sejak masa muda hingga akhir hayatnya.
Meskipun penglihatannya terganggu dan nyaris tidak melihat, ia tetap menulis. Mata adalah organ terpenting di dalam upaya tulis menulis khususnya bagi seorang pujangga sekaliber Salmun.
Karya Salmun semula dalam bentuk dangding dan cerita pendek yang muncul dalam penerbitan Volksalmanak Soenda dan Majalah Parahiangan terbitan Balai Poestaka. Kemudian menulis wawacan, gending karesmen, bahasan (essay), roman, sajak-sajak dan yang lainnya.
Sementara itu Entah Lirayana adalah seorang dalang kondang yang sangat patuh terhadap pakem (aturan pedalangan-red) dan dalang yang sering dipanggil ke Istana Bogor dan Jakarta. Entah merupakan dalang yang dikenal di seluruh Jawa Barat.
Laily R
