Garut (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyampaikan status siaga bencana hidrometeorologi sudah berakhir sampai 30 April 2026, dan tidak diperpanjang meski saat ini hujan masih terjadi pada awal Mei yang berpotensi bencana alam.
"Tidak (diperpanjang), jadi status siaga darurat tetap berakhir sampai dengan 30 April," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Garut Abud Abdullah di Garut, Rabu.
Ia menuturkan pemerintah daerah sebelumnya menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem saat musim penghujan sejak Oktober 2025 sampai 30 April 2026.
Keputusan status siaga darurat bencana tersebut, kata dia, sudah selesai, namun saat ini dampak dari bencana hidrometeorologi yang terjadi April masih ditetapkan status tanggap darurat bencana sampai 15 Mei 2026 untuk penanganan dampak bencana.
"Saat ini sedang status tanggap darurat dari 18 April sampai 1 Mei 2026 dan sekarang sedang masa perpanjangan status tanggap darurat dari 2 Mei sampai 15 Mei 2026," katanya.
Ia mengatakan bencana hidrometeorologi telah terjadi di sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Garut, seperti bencana banjir, tanah longsor, tanah bergerak, dan cuaca ekstrem seperti hujan deras, serta angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang.
Kondisi hujan deras tersebut, kata dia, sampai saat ini masih terjadi, sehingga masyarakat harus selalu waspada untuk menghadapi kondisi cuaca saat ini yang belum menentu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata dia, sudah memperkirakan pada Mei dan awal Juni 2026 sudah memasuki musim kemarau.
"Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu, sekalipun demikian berdasarkan prediksi BMKG bahwa pada bulan Mei sampai dengan awal bulan Juni sudah memasuki awal musim kemarau," katanya.
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026