Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon, Jawa Barat, melalui Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) menggencarkan kampanye penggunaan kantong ramah lingkungan di pasar tradisional di tengah kenaikan harga plastik di daerah tersebut.
Kepala DKUKMPP Kota Cirebon Iing Daiman di Cirebon, Selasa, mengatakan kenaikan harga kantong plastik saat ini cukup berpengaruh terhadap aktivitas pedagang, terutama pada margin keuntungan.
“Kalau bertanya ke beberapa pedagang, boleh dibilang cukup berpengaruh karena mengurangi margin keuntungan,” katanya.
Meski demikian ia menyebut kondisi tersebut mendorong pedagang melakukan berbagai penyesuaian dalam penggunaan kemasan.
Ia menyampaikan salah satu langkah yang dilakukan yakni menggabungkan beberapa komoditas dalam satu kantong plastik.
Selain itu ia mengungkapkan pedagang di Kota Cirebon pun mulai mengurangi penggunaan plastik berlapis pada sejumlah komoditas. Ia mencontohkan minyak curah yang sebelumnya dikemas dengan dua lapis plastik kini cukup menggunakan satu lapisan.
Iing menilai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya efisiensi, sekaligus pengurangan sampah plastik di pasar tradisional.
Menurut dia, kesadaran pedagang untuk mengurangi penggunaan plastik mulai tumbuh meski belum sepenuhnya signifikan.
Sejumlah pedagang, lanjut dia, mulai memanfaatkan bahan alternatif non-plastik seperti daun pisang sebagai pembungkus.
“Bahkan di sejumlah pasar, para pembeli sudah membawa kantong sendiri. Jadi secara tak langsung mulai mengurangi pemakaian kantong plastik,” katanya.
Sementara itu Aeni (60), salah satu pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku kenaikan harga plastik dan bahan pendukung lainnya dirasakan dalam aktivitas usaha.
Ia menyampaikan harga kantong plastik yang biasanya sekitar Rp8.000 per kemasan kini naik menjadi Rp12.000 sejak awal April 2026.
Ia mengatakan kondisi tersebut sempat mendorongnya menaikkan harga jual, meski akhirnya kembali ke harga semula karena respons pembeli.
“Omzet yang sebelumnya berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari kini menurun, bahkan untuk mencapai Rp100 ribu menjadi lebih sulit,” katanya.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026