Banyumas (ANTARA) - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat terus belajar dan berbenah dalam pengelolaan sampah dengan mencontoh daerah yang dinilai berhasil, salah satunya Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Saat memberikan sambutan pada Peluncuran Refuse Derived Fuel (RDF) dan Recycling Center Kabupaten Banyumas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Selasa, Farhan mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan dengan satu solusi tunggal, karena karakteristik dan variabel sampah yang sangat beragam.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir serta pembelajaran berkelanjutan.
"Tidak ada istilah one fix for all (satu perbaikan untuk semua) dalam pengelolaan sampah. Sampah itu variabelnya paling banyak, sehingga penanganannya harus spesifik," katanya dalam acara yang dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono itu.
Ia mencontohkan sampah dari makanan tradisional, seperti lemper yang menghasilkan beberapa jenis sampah sekaligus, mulai dari sisa makanan, limbah organik daun pisang, hingga plastik dan kertas pembungkus, yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda.
Ia mengungkapkan Kota Bandung saat ini memproduksi lebih dari 1.500 ton sampah per hari, namun berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang berhasil diolah baru sekitar 22 persen, sehingga masih jauh dari target ideal.
Sebagai upaya percepatan, kata dia, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah pada 26 Januari 2026, yakni penempatan satu petugas pemilah dan pengelola sampah di setiap RW.
Menurut dia, petugas tersebut bertugas mendatangi rumah warga untuk memastikan sampah dipilah sejak dari sumber. "Yang organik harus selesai di level kelurahan, sementara anorganik diolah lebih lanjut. Ini bagian dari membangun ekosistem pengelolaan sampah," katanya.
Selain teknologi, kata dia, kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah adalah integritas tata kelola.
