Bandung (ANTARA) - Sistem pembayaran berbasis digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin diminati oleh masyarakat dan pedagang.
Sejumlah warung, angkringan, pedagang keliling, hingga toko modern bahkan pasar tradisional, mulai beralih dari transaksi tunai ke sistem pembayaran digital demi kemudahan dan keamanan bertransaksi.
Dewi, seorang pedagang minuman di kawasan Jalan Sayang, Jatinangor, mengaku telah menggunakan QRIS sejak akhir 2020. Menurutnya, penggunaan QRIS mempermudah proses jual beli karena pembeli tidak perlu lagi membawa uang tunai atau menunggu kembalian.
“Sekarang hampir semua pelanggan saya bayar pakai QRIS. Lebih cepat, dan saya tidak perlu repot menyediakan uang kecil untuk kembalian,” ujarnya saat ditemui, Senin.
Hal senada disampaikan Rudi, penjual makanan di sekitar kawasan Gerlam. Ia mengatakan penggunaan QRIS membantu mengurangi risiko kehilangan uang tunai dan lebih aman karena dana langsung masuk ke rekening.
“Saya merasa lebih nyaman, apalagi kalau sedang ramai pembeli. Pembayaran digital lebih efisien, tapi ya kadang ada kurangnya, kaya uang berlum masuk, tapi makin ke sini makin baik performanya” katanya.
Sementara itu, beberapa pembeli juga mengaku lebih memilih menggunakan QRIS karena dianggap praktis. Riri, seorang mahasiswi, mengatakan jarang membawa uang tunai sejak banyak toko bahkan warung sudah menyediakan transaksi QRIS yang bisa dilakukan dengan ponsel.
“Biasanya saya bayar pakai QRIS, tinggal scan saja. Hampir semua pedagang di sekitar sini udah pakai QRIS jadi mau beli apa aja lebih mudah,” ujar Riri.
Kendati demikian, tidak semua pedagang langsung beralih ke pembayaran digital. Sebagian masih mengandalkan transaksi tunai karena belum terbiasa menggunakan aplikasi perbankan atau belum memiliki perangkat yang mendukung.
Menurut pantauan di lapangan, penggunaan QRIS kian meluas tidak hanya di toko modern, tetapi juga di warung makan, pedagang kaki lima, hingga pasar tradisional. Kondisi ini menunjukkan perubahan perilaku konsumen sekaligus dorongan bagi pelaku usaha kecil untuk ikut beradaptasi.
Dikutip dari laman QRIS Pada Juli 2025, data Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi melalui QRIS mengalami lonjakan signifikan, dengan pertumbuhan mencapai 162% year-on-year (YoY). Kedepannya OJK mengungkapkan pemerintah bersama otoritas keuangan terus mendorong inklusi keuangan digital, salah satunya melalui program edukasi dan kemitraan dengan pelaku UMKM.
Dengan tren ini, penggunaan QRIS diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat, seiring meningkatnya literasi digital masyarakat dan perluasan jaringan internet di berbagai daerah.
