Antarajabar.com - Produsen nata de coco di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kesulitan mendapatkan bahan baku yakni air kelapa untuk mampu memenuhi permintaan pasar dari berbagai daerah sebanyak 20 ton per sepekan.
"Permintaan saat ini meningkat tapi tak sebanding dengan bahan baku yang ada di Ciamis," kata Ujang Kusman produsen nata de coco di Kabupaten Ciamis, Rabu.
Ia menuturkan, usaha yang digelutinya sejak 20 tahun itu mengalami peningkatan pesanan sebulan sebelum Ramadan, dari hari biasanya 10 ton menjadi 20 ton nata de coco per sepekan.
Ia menyampaikan, pembeli terbesar nata de coco buatannya yaitu perusahaan besar di bidang industri makanan cepat saji.
"Untuk satu ton nata de coco membutuhkan seribu liter air kelapa, untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen sekarang membutuhkan 20 ribu liter," katanya.
Ia mengungkapkan, sulitnya bahan baku nata de coco itu karena banyaknya perusahaan sama yang bersaing untuk mendapatkan bahan baku di Ciamis.
Ia menyebutkan, produsen nata de coco di Ciamis, Banjar dan Pangandaran diperkirakan ada 90 pabrik yang semuanya sama-sama membutuhkan bahan baku air kelapa.
Ujang berupaya mensiasati persaingan mendapatkan bahan baku tersebut dengan mencari air kelapa ke luar daerah Ciamis.
Sementara, kata dia, berhasil mendapatkan bahan baku air kelapa untuk memenuhi kebutuhan pabriknya dari wilayah Cirebon.
"Persaingan untuk dapat bahan baku sekarang sangat ketat, makanya saya mensiasatinya mencari air kelapa ke luar Ciamis, seperti Cirebon," katanya.
Ia menambahkan, tingginya permintaan pasar karena banyak masyarakat khususnya orang yang berpuasa senang membuat menu makanan atau minuman dicampur nata de coco.
Selain meningkatnya permintaan pasar, kata dia, karena nata de coco yang diproduksi di Ciamis memiliki keunggulan kualitas terbaik dibandingkan daerah lain.
"Banyak orang yang cari nata de coco ke Ciamis, karena katanya kualitasnya bagus," kata Ujang.
Produsen Nata De Coco Kesulitan Bahan Baku
Rabu, 31 Mei 2017 15:49 WIB
