Jakarta (ANTARA) - Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi data penjualan rumah Amerika Serikat (AS) yang menurun.
“Rupiah menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data penjualan rumah yang turun ke level terendah dalam sembilan bulan,” kata Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis.
Mengutip Xinhua, penjualan rumah di AS pada Juni 2025 menurun 2,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penjualan turun menjadi 3,93 juta unit pada bulan lalu.
Suku bunga Kredit Pembelian Rumah (KPR) yang tinggi dinilai menjadi penyebab penjualan rumah berada pada titik terendah siklus.
Berdasarkan perhitungan National Association of Realtors, jika suku bunga KPR rata-rata turun menjadi 6 persen, maka tambahan ada tambahan 160 ribu penyewa menjadi pemilik rumah pertama kali dan peningkatan aktivitas penjualan dari pemilik rumah yang sudah ada.
Namun, suku bunga di AS tetap tinggi, sehingga relatif mahal bagi masyarakat untuk membeli rumah.
“Masyarakat merasakan ketidakpastian ekonomi AS akibat kenaikan tarif Trump, sehingga menunda pembelian, juga karena suku bunga KPR di AS masih dirasakan cukup tinggi di 6,6 persen. Mereka mungkin menunggu pemangkasan suku bunga AS lagi di tahun ini,” ujar Ariston.
