"Secara keseluruhan untuk tingkat Provinsi Jabar, cfr atau case fatality rate (presentase angka kematian) akibat penyakit DBD, nilainya di bawah satu persen, yakni 0,80 persen. Tapi memang kalau berdasarkan kabupaten/kota, CFR tertinggi itu ada di Kabupaten Indramayu," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Uus Sukmara, di Kota Bandung, Jumat.
Ia menuturkan berdasarkan data dari Bidang Bina Pelayanan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Dinkes Jawa Barat, ada sejumlah kabupaten/kota yang angka presentase kematian akibat penyakit DBD-nya di atas satu persen.
Kabupaten/kota di Jawa Barat yang angka persentase kematian akibat DBD-nya di atas satu persen, kata Uus, ialah Kabupaten Indramayu, Kabupaten Bogor (1,36 persen), Kabupaten Cianjur (satu persen), Kabupaten Cirebon (1,04 persen), Kabupaten Majalengka (1,39 persen), Kabupaten Bekasi (1,18 persen), Kota Bekasi (1,33 persen).
"Memang untuk tingkat wilayah provinsi sendiri, Kementerian Kesehatan menginstruksikan agar angka CFR itu di bawah satu persen. Bahkan kalau bisa nol persen atau tidak ada korban jiwa akibat penyakit DBD," kata dia.
Menurut dia, tingginya persentase angka kematian akibat penyakit DBD di Kabupaten Indramayu sejumlah faktor salah satunya terlambatnya si penderita DBD memeriksakan diri ke rumah sakit atau puskesmas.
"Jadi selain faktor peralihan musim dari kemarau ke hujan atau sebaliknya, selama ini banyak penderita DBD yang tidak sadar kalau dia itu terkena DBD. Sehingga saat mereka ke puskesmas atau rumah sakit kondisinya sudah parah bahkan sudah pecah pembuluh darah," kata dia.
Oleh karena itu, Uus mengimbau kepada warga yang mengalami demam tinggi selama tiga hari berturut-turut agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat dan melakukan cek darah untuk memastikan apakah terkena penyakit DBD atau tidak.
Pewarta: Ajat Sudrajat: Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.