Cimahi (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi, Jawa Barat, mencatat kasus berdarah dengue (DBD) terjadi di wilayahnya selama periode Januari hingga Oktober 2025 mengalami penurunan dibanding tahun lalu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi Mulyati dalam keterangan yang diterima di Bandung, Senin, mengatakan pihaknya tetap memberi perhatian lebih karena kasus DBD mengalami fluktuatif.
"Meski angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun tren fluktuatif kasus DBD tetap menjadi perhatian," katanya.
Dirinya merinci, kasus DBD sebanyak 308 kasus hingga Oktober 2025, dengan kasus terbesar terjadi di bulan Januari 59 kasus dan terendah berada di Oktober dengan 9 kasus.
Mulyati menjelaskan dinamika kasus DBD dipengaruhi berbagai faktor, terutama kebersihan lingkungan dan perilaku masyarakat, serta perubahan iklim yang menyebabkan suhu lebih hangat dan curah hujan tidak menentu.
"Pola cuaca saat ini menciptakan kondisi ideal dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Genangan air akibat hujan deras yang tidak langsung kering menjadi tempat berkembang biak ideal," katanya.
Ia mengimbau masyarakat memperkuat penerapan Gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas.
Dirinya juga meminta agar warga dapat melakukan pencegahan tambahan berupa penggunaan kelambu, obat antinyamuk, dan fogging selektif di wilayah tertentu.
"Pemerintah Kota Cimahi juga telah meningkatkan langkah preventif melalui edukasi, fogging selektif, dan pemantauan jentik di wilayah rawan. DBD bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan dampak krisis iklim," ujarnya.
