Bandung (ANTARA) - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengimbau warga untuk waspada dalam menghadapi cuaca ekstrem yang kini tengah melanda wilayah Kota Bandung.
Pada Siskamling Siaga Bencana ke-46 di Kelurahan Pasir Kaliki, Selasa (2/12), Farhan mengatakan tanda-tanda struktural pada bangunan tidak boleh dianggap remeh.
“Cuaca ekstrem kali ini jangan dianggap remeh sama sekali, karena kita tidak pernah tahu besaran curah hujan yang terjadi. Jadi apabila sudah melihat ada retakan di bangunan, segera mengungsi. Kita tidak mau sampai terjadi apa-apa,” katanya.
Dari siaran pers, Farhan ingin keselamatan warga jadi prioritas utama, khususnya bagi yang tinggal di kawasan rawan longsor.
Pemerintah Kota Bandung sebelumnya telah memindahkan dua keluarga dari Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap, karena tempat tinggalnya menunjukkan retakan akibat pergeseran tanah.
“Kami berprinsip, dalam menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana, kami memastikan tidak boleh ada jatuh korban,” ungkap Farhan.
Farhan juga meninjau beberapa lokasi rawan pada saat Siskamling Siaga Bencana di Pasir Kaliki. Sebelumnya terjadi insiden gedung KONI runtuh dan menimpa rumah warga di kawasan tersebut.
“Saya mau meninjau dulu penyelesaiannya seperti apa. Mudah-mudahan ada solusi,” ujarnya.
Farhan mengingatkan bencana hidrometeorologi sekaligus ancaman demam berdarah dengue (DBD) yang biasanya meningkat pada awal tahun.
“Kalau Anda merasakan demam selama 24 jam, walaupun sudah dikasih obat, turun sebentar naik lagi, segera bawa ke Puskesmas,” instruksinya.
Ia menyampaikan apabila perlu pemeriksaan darah, warga dapat melakukannya di Puskesmas secara gratis.
“Jika dokter mengatakan memang perlu dites, maka tes ini gratis,” ujarnya.
Persoalan sampah di kawasan Pasir Kaliki turut disampaikan warga. Farhan berpendapat bahwa persoalan tersebut terjadi karena masalah pengangkutan.
“Pengangkutannya memang harus diatur lebih cepat, karena rumahnya padat penduduk dan berada di jalan protokol yang tidak boleh dibiarkan lama-lama,” ungkapnya.
Pemkot Bandung berencana untuk menempatkan petugas khusus pemilah dan pengolah organis di setiap RW sebagai solusi jangka panjang.
“Ada petugas pemilah dan pengolah setiap hari, khusus untuk sampah organik,” ujar Farhan.
Pewarta: Nazla Regina (*)Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.