Plh Rektor ITB Irwan Meilano mengatakan, program tersebut merupakan wujud dukungan perguruan tinggi untuk mengatasi permasalahan stunting di Garut.
"Ini adalah bentuk dukungan bersama banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan ini," katanya.
Ketua Umum Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma menambahkan, penerapan teknologi budidaya nila dengan sistem aquaponik itu merupakan program nasional yang melibatkan perguruan tinggi dan pemerintah untuk peningkatan akses makanan bergizi bagi masyarakat miskin dan stunting.
"Program rintisan ini bila berjalan sesuai rencana diharapkan dapat menjadi model dan laboratorium pendistribusian dan pemberdayaan dana zakat, infak, sedekah, CSR, dan dana publik lainnya," katanya.
Budidaya nila dengan sistem aquaponik di Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi dilaksanakan di lahan seluas 1.200 meter persegi.
Program tersebut menggunakan sistem 12 kolam yang ditempatkan dalam "greenhouse" seluas 370 meter persegi yang mampu menghasilkan 2 sampai 3 ton ikan nila.
Baca juga: Ombudsman RI: Layanan posyandu di Garut harus lebih baik atasi stunting
Baca juga: Dinkes Garut edukasi masyarakat mencegah kasus kematian ibu dan anak
Baca juga: Garut turunkan tim survei status gizi untuk cek kasus stunting
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026