Kadek Asih menjadi “penyelamat” tatkala para seniornya terhenti di putaran final speed putri di antaranya Desak Made Rita Kusuma Dewi yang juga berasal dari Buleleng, Bali.
Desak Rita terhenti pada babak perempat final dengan catatan waktu 9,17 detik karena sempat terpeleset menjelang puncak dan dikalahkan juara dunia dari Polandia Miroslaw Aleksandra dengan catatan waktu 6,57 detik.
“Sebetulnya kami tempatkan (Kadek Adi Asih) lebih cadangan tapi ternyata mempersembahkan medali, ini kejutan manis,” ujar Yenny Wahid.
Awal manis itu pun mencuri perhatian publik karena ia merupakan atlet potensial yang bisa memperkuat tim nasional Indonesia di ajang bergengsi lain, seperti persiapan untuk Olimpiade Los Angeles, Amerika Serikat 2028.
Panjat cengkih,
Kadek Asih lahir dan besar di dataran tinggi Kabupaten Buleleng, Bali Utara, tepatnya di Banjar (dusun) Pumahan, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada yang memiliki hawa sejuk.
Dalam urusan panjat memanjat, sejak kecil ia sudah tak asing karena usai pulang dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Gitgit, ia kerap mengikuti ayahnya, Komang Redi, untuk memetik cengkih yang tumbuh menjulang tinggi.
Sang ayah adalah petani cengkih, sedangkan sang ibu, Luh Putu Sutarjani adalah staf di Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Bali.
Bakat panjat tebing itu terus diasah sejak duduk di bangku SD dengan masuk gemblengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Buleleng.
Dengan restu kedua orang tua, potensi terus berkembang ketika mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Singaraja dan berlanjut di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Singaraja.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengikuti sejumlah turnamen lokal, nasional, hingga level junior skala internasional.
Sebelumnya, pada turnamen lokal, ia berprestasi membela Kabupaten Buleleng pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV pada 2022 dan menyumbangkan empat medali emas.
