Berulang kali rencana pengoptimalan pelabuhan di Jabar itu disuarakan dan acap tenggelam kembali. Alasannya pelabuhan itu kerap disebut tidak bisa dikembangkan, ada pendangkalan alur dan lainnya.
Pelabuhan Cirebon saat ini menjadi pelabuhan penting untuk pasokan energi. Berton-ton batu bara untuk memasok industri di Jabar masuk melalui pelabuhan itu. Selain itu, lalu lintas barang dan perniagaan juga masih menggunakan pelabuhan itu sebagai gerbang mereka.
Jauh sebelum asa itu bangkit kembali, seorang anggota DPRD Jawa Barat periode 2004--2009 secara tegas menguraikan manfaat yang didapat jika Pelabuhan Cirebon dimaksimalkan perannya dalam geliat ekonomi Jabar.
Menurut Harjoko Sangganera, dalam suatu tulisannya, berbagai kajian telah menunjukkan bahwa optimalisasi Pelabuhan Cirebon bisa menghemat biaya dan jarak pengiriman. Di sisi lain, pengiriman barang dan jasa lewat Pelabuhan Tanjung Priok membuat komoditas ekspor kurang kompetitif.
Selain itu, kata dia, Pelabuhan Cirebon sebenarnya lebih menguntungkan kalangan pengusaha dari Jabar dan sebagian Jawa Tengah. Pasalnya, komoditas ekspor yang berasal dari Tegal, Brebes, Kuningan, Indramayu, dan Cirebon tidak lagi harus ke Tanjung Priok yang sering terkendala kemacetan lalu lintas jalur pantura.
Ia memberikan contoh kalkulasi sederhana. Selama ini biaya yang harus dikeluarkan pengusaha untuk mengangkut rotan dari Cirebon ke tempat tujuan lewat Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 3.000 dolar AS per kontainer.
Padahal, harga jual barangnya hanya sekitar 18.000 dolar AS. Jika melalui Pelabuhan Cirebon, biayanya hanya sekitar 800 dolar AS sehingga bisa menghemat 2.200 dolar AS setiap kontainernya.
Jarak Pendek
Dukungan revitalisasi Pelabuhan Cirebon disampaikan kalangan dunia usaha di Jabar. Ketua Kadin Jabar Agung Suryaman Sutrisno dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Deddy Wijaya menyambut baik pengembangan Pelabuhan Cirebon.
"Pelabuhan Cirebon harus kembali menjadi peta utama perhubungan laut, lalu lintas logistik nasional. Pelabuhan Cirebon adalah pelabuhan riil yang ada di Jabar saat ini yang perlu direvitalisasi," kata Agung Suryamal Sutrisno.
Ia mengakui bila dunia usaha mendambakan sebuah efesiensi dalam pengiriman produk ekspor dan impor yang saat ini harus melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Berbagai kendala dan permasalahan makin bertambah menyusul kian padatnya pelabuhan yang dahulu bernama Pelabuhan Sunda Kelapa itu.
"Pengusaha berharap ada pelabuhan utama di Jabar, wacanananya di Cilamaya, itu harus diperjuangkan. Namun, Pelabuhan Cirebon memiliki sejarah yang tidak bisa dibiarkan berlalu. Pelabuhan itu ke depan harus kembali menjadi bagian dari pelayanan jarak pendek, khususnya untuk distribusi logistik antar pulau," katanya.
Saat ini Pelabuhan Cirebon menjadi pelabuhan batu bara bagi Jabar. Di lokasi itu juga ada terminal aspal curah dan terminal sawit.
"Batu bara sangat penting bagi industri di Jabar, di antaranya untuk pembangkit listrik, ada juga yang memakai batu bara untuk steem. Pelabuhan Cirebon yang paling dekat dengan kawasan industri di Jabar juga beberapa kota di Jateng," katanya.
Data dari Suplay Chain Indonesia menunjukkan pertumbuhan volume angkutan kargo melalui laut dari waktu lima tahun terakhir rendah. Demikian halnya pertumbuhannya juga belum signifikan.
Tercatat dalam kurun waktu lima tahun hanya Pelabuhan Tanjung Priok yang menalami peningkatan angkutan kargo domestik sekitar 12 persen, sedangkan pelabuhan lainnya stagnan bahkan menurun.
Kepadatan di pelabuhan utama itu jelas banyak menimbulkan hal yang tidak produktif bagi perekonomian nasional. Beda halnya bila terurai ke pelabuhan terdekat, seperti Pelabuhan Cilamaya pada masa depan atau Pelabuhan Cirebon, kendala ekonomi dan biaya tinggi akibat lalu lintas yang buruk di jalur Jakarta bisa diselamatkan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Deddy Wijaya mengatakan bahwa kelancaran arus pengiriman logistik ataupun orang pihaknya mendukung rencana pemerintah melakukan revitalisasi Pelabuhan Cirebon.
"Cirebon merupakan daerah penghubung Jabodetabek dan Semarang di Jateng. Posisinya strategis, tinggal sekarang bagaimana revitalisasi pelabuhan itu direalisasikan secara maksimal," katanya.
Ia mengakui aktivitas pelayaran dan penyeberangan di Pelabuhan Cirebon sepi. Pelabuhan itu hanya digunakan untuk beberapa komoditas saja yang menjadikannya sebagai pelabuhan utama.
Pelabuhan dipadati kapal pengangkut batu bara. Salah satu penyebabnya adalah kedalaman alur yang dangkal yang mengakibatkan kapal besar pun sulit sandar.
Sementara itu, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) melalui ketuanya Zaldy Ilham memperhitungkan potensi besar Pelabuhan Cirebon untuk lalu lintas logistik nasional. Pelabuhan itu bisa mengambil peran dalam pelayaran jarak pendek dengan melayani kapal-kapal dari Lampung, Banjarmasin, Surabaya, hingga Makassar.
Dirjen Perhubungan Laut Kemeterian Perhubungan menargetkan pengembangan Pelabuhan Cirebon mendukung pelayaran pendek. Pengembangan Pelabuhan Cirebon untuk layanan pelayaran jarak pendek cukup prospektif karena di samping letaknya yang strategis, kapasitas dermaga di Pelabuhan Cirebon sangat besar dan layak dimasuki kapal besar.
Sejarah Pelabuhan
Pelabuhan Cirebon merupakan pintu gerbang perekonomian Jabar dan merupakan pelabuhan alternatif bagi Pelabuhan Tanjung Priok, khususnya dalam melayani kegiatan perdagangan antarpulau.
Lokasinya terletak di Kota Cirebon, lintas utama pantai utara Jabar, kurang lebih 250 km dari Jakarta atau 130 KM dari Bandung.
Pelabuhan itu dibangun pada tahun 1865, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kemudian pada tahun 1890 diperluas dengan pembangunan kolam pelabuhan dan pergudangan.
Pelabuhan yang dikenal dengan nama Muara Jati itu dapat dicapai dengan mudah melalui jalan darat, baik dari arah Jakarta, Provinsi Jateng, maupun dari Kota Bandung, Jabar. Kemudahan ini mendukung kelancaran distribusi barang dari dan ke Pelabuhan Cirebon.
Pelabuhan itu memiliki spesifikasi kedalaman kolam -7 m LWS. Kapal yang memiliki draf di atas 7 meter dapat dilayani di daerah lego jangkar kurang lebih 5--10 km lepas pantai.
Sejak 1983 Pelabuhan Cirebon menjadi salah satu Cabang Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).
Fasilitas dan peralatan di Pelabuhan Cirebon tersedia untuk melayani berbagai pelayanan kepelabuhanan, yakni stasiun radio pantai, pandu dan tunda, dermaga tempat tambat kapal, gudang, lapangan dan lapangan peti kemas, fasilitas bongkar muat barang, serta bangunan dan perkantoran umum.
syarif abdullah
Editor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026