General Manajer Pabrik Gula Sindanglaut dan Tersana Baru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat Muchamad Wisri Mustafa mengatakan penutupan PG Sindanglaut merupakan keputusan dari Direksi dan ini untuk efisiensi perusahaan yang berdiri sejak zaman penjajahan itu.
"Kita sudah sosialisasi terkait keputusan Direksi mengenai 'off' nya (ditutupnya) PG Sindanglaut kepada petani juga organisasi APTRI," kata Wisri di Cirebon, pada 15 Februari 2020.
Menurut dia penutupan PG Sindanglaut merupakan hasil dari kajian dan juga alasan yang dapat diterima semua perusahaan, karena ketika pabrik terus beroperasi, maka perusahaan terus mengalami kerugian yang tidak sedikit.
"Berdasarkan paparan dan alasan-alasannya Direksi kemudian memutuskan untuk menutup PG Sindanglaut," ujarnya. Seperti jumlah bahan baku di PG Sindanglaut yang dari tahun ke tahun terus menurun dan tidak mencukupi untuk digiling di pabrik.
Dia juga mengatakan semua pabrik gula ketika masa gilingnya di bawah 100 hari, maka dipastikan pabrik tersebut akan mengalami kerugian. "Karena untuk idealnya pabrik gula itu masa giling harus lebih dari 100 hari," katanya.
Lahan tebu milik petani yang berada di bawah Pabrik Gula (PG) Sindanglaut sendiri dari tahun ke tahun terus menyusut dan sekarang tinggal 2.000 an hektare saja.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mentan: Pengaktifan PG Sindanglaut tingkatkan minat petani