"Kita sudah 'memaksa' ketiga rektor itu untuk menambah kuota khusus bagi mahasiswa asal Jabar. Sebenarnya bukan 'memaksa,' tapi kita sudah sepakat dan ada perjanjiannya dengan ketiga rektor tersebut," kata Ahmad Heryawan, di Bandung, Rabu.
Ia menuturkan, di Jawa Barat ada tiga PTN yang masuk sebagai world class university yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadajaran (Unpad), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
"Namun, warga Jabar yang kuliah di tiga kampus tersebut bukan mayoritas. Contohnya di Unpad, pada tahun 2012 lalu, dari puluhan ribu mahasiswanya, hanya 51 persen mahasiswa yang berasal dari Jabar. Begitu pun dengan ITB dan IPB," katanya.
Menurut dia, imbauan agar PTN di Jabar menambahkan kuota bagi mahasiswa asal Jabar ini dilakukan untuk mendongkrak angka partisipasi kasar (APK) masuk perguruan tinggi di Jabar yang hingga saat ini hanya 15,19 persen.
Melalui program ini, kata Heryawan, maka pelajar berprestasi di seluruh Jabar, khususnya di daerah terpencil akan disekolahkan di ketiga perguruan tinggi tersebut.
"Sehingga orang di Jampang Kulon, Cidolog, Pameungpeuk dan daeraah terpencil lainnya bisa bersekolah di ITB, Unpad, dan ITB. Melalu program ini, kita akan jemput bola. Selama ini, persepsi mereka sekolah di ITB, Unpad, atau IPB bagai mimpi. Tapi ketika dites mereka mampu bersiang dengan anak-anak di perkotaan," kata Heryawan.
Menurut dia, dengan banyaknya kesempatan warga Jabar yang mengecam pendidikan di perguruan tinggi maka APK perguruan tinggi di Jabar akan semakin meningkat.
Pihaknya menargetkan selama lima tahun ke depan APK ini harus naik menjadi di atas 25 persen.
"Dan ini hitung-hitungan yang realistis ya karena sudah dikoordinasikan dengan badan pusat statistik (BPS)," katanya.
ITB, Unpad, dan IPB, menurut Heryawan, memang dicari oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat mancanegara sehingga untuk melindungi warga Jabar agar bisa bersekolah di perguruan tinggi yang ada di Jabar yang bertaraf internasional yakni dengan membuat kuota khusus.
"Saya kira wajar ada kuota khusus untuk masyarakat Jabar di perguruan tinggi di Jabar. Terlebih, kuota di perguruan tinggi itu diperebutkan secara nasional. Enggak menyalahi aturan karena semua melalukan yang sama. Contohnya SMA di Jakarta, ada kuota khusus untuk warga Jakarta," ujar Heryawan.
Ketika ditanyakan tentang kompensasi dari tiga perguruan tinggi dengan adanya program ini, menurut Heryawan tidak ada kompensasi khusus karena program ini hanya kesadaran perguruan tinggi bersangkutan.
"Contohnya Unpad sudah melaksanakan program ini pada tahun 2013 dengan nama 'Unpad Nyaah ka Jabar'. Saya rasa ini hanya urusan keberpihakan saja," katanya.
Ia menuturkan, sebenarnya di Unpad, program kuota kuota khusus ini sudah berjalan dan tahun ini masyarakat Jabar yang kulaih di Unpad sudah meningkat jadi 70 persen.
"Jatahnya sebanyak dua orang per fakultas. Jadi totalnya 86 orang per kota atau kabupaten per tahunnya," kata dia.***4***
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026