"Pelaku UMKM jangan terlalu berlama-lama sebagai pelaku usaha mikro, harus naik kelas, karena UMKM hanya sebagai batu loncatan menjadi usahawan yang memiliki skala bisnis dan omzet yang lebih besar," kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada Diskusi Ekonomi Forum Diskusi Wartawan Ekonomi Bandung (Fordisweb) di Bandung, Rabu.
Dalam kegiatan yang diikuti oleh ratusan pelaku usaha UMKM, mahasiswa dan sejumlah pengusaha muda di Jawa Barat itu mengupas tentang optimalisasi gerakan kewirausahaan dan UMKM di Jawa Barat dalam rangka melahirkan wirausaha-wirausaha baru di provinsi itu.
Selain Gubernur Heryawan yang menyampaikan keynote speach, diskusi ekonomi itu juga menghadirkan pembicara Sekda Kota Bandung Eddy Siswadi, Pimpinan Divisi Mikro Bank BJB Beny Rusyadi, Kadis Indag Jabar Ferry Sofyan Arief, Wakil Kadin Jabar Iwan Gunawan, Ketua HIPMI Jabar Yedi Karyadi dan pengamat ekonomi Acuviatra Kurtubi.
Gubernur menyebutkan, ukuran ekonomi mikro hanya skala sementara, gerakan usahawan muda diharapkan bisa meningkatkan spirit untuk berkembang menjadi gerakan massal sekaligus mengubah cara pandang dari orientasi pekerja menjadi wirausaha.
"Wirausahawan harus menjadi bagian tepat untuk merubah kehidupan seseorang, menciptakan lapangan pekerjaan dan punya visi dan misi usaha yang jelas," kata Gubernur.
Selain itu, orang nomor satu di Jawa Barat juga mengingatkan agar seorang pelaku usaha harus memiliki target waktu dalam mengembangkan usahanya secara positif dari skala mikro, kecil, menengah hingga menjadi pelaku usaha besar.
Ia menyebutkan, upaya merupah paradigma pemikiran khususnya generasi muda dari sebagai pekerja menjadi pengusaha merupakan salah satu fokus dari Pemprov Jabar ke depan. Salah satunya dengan mengembangkan dan menularkan jiwa kewirausahaan di sekolah, kampus hingga menggandeng pemuda di pedesaan.
"Jawa Barat memiliki potensi pasar yang sangat potensial, yang diincar oleh pelaku usaha dalam maupun luar negeri. Jangan sampai potensi pasar itu diraih orang lain, sehingga menjadi tantangan bagi wirausaha kita," kata Heryawan.
Terkait upaya pemerintah melakukan mediasi pembiayaan kepada pelaku UMKM, kata Gubernur berbagai upaya sudah dilakukan. Selain melalui KUR juga dilakukan melalui program Kredit Cinta Rakyat (KCR) Bank BJB yang merupakan program penyertaan dana ABPD untuk disalurkan kepada pelaku UMKM dengan bunga rendah.
"Menjadikan UMKM yang belum bankable menjadi bankable memang menjadi, tugas bersama. Namun Pemprov Jabar memfasilitasi, salah satunya melalui program KCR dan pendampingan oleh Kadin, Dinas UMKM, Bank Indonesia dan lainnya," kata Gubernur.
Di sisi lain, tantangan pelaku UMKM adalah meningkatkan nilai tampah dan daya saing produk antara lain dengan mengolah sumber daya alam yang menjadi bahan mentah, menjadi bahan baku, setengah jadi dan bahan jadi.
"Kuncinya tidak bergerak dan berusaha sendiri, perlu membentuk jejaring diantara pelaku usaha. Tidak hanya dengan pengusaha yang telah besar namun jejaring bisa dilakukan dengan sesama UMKM sehingga menjadi kuat," kata Heryawan.
Ia menyebutkan, UMKM menjadi salah satu pendorong ekonomi di Jawa Barat dan penyerap tenaga kerja yang cukup besar setiap tahunnya. Di sisi lain penciptaan jejaring usaha sudah lebih meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana UMKM cenderung berusaha sendiri.
"Bukan saatnya lagi berusaha sendiri, main sendirian. Ke depan butuh jejaring baik dalam produksi maupun pemasaran. Insya Allah dengan jejaring yang kuat Jabar akan kuat untuk masuk ke perdaganan bebas," kata Gubernur Heryawan menambahkan.
Sementara itu, Diskusi Ekonomi Optimalisasi Gerakan Wirausaha dan UMKM Jabar itu juga membahas sejumlah kendala dalam menumbuhkan wirausaha, serta mencari solusinya baik terkait pembiayaan, jejaring bisnis, kiat binis serta peluang-peluang yang bisa diraih oleh para pelaku usaha UMKM di Jawa Barat.***2***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026