"Namun kerusakan itu tidak menghambat sistem pendeteksian. Meskipun yang satu rusak tapi alat pendeteksi lainnya masih bisa mendeteksi," kata Dr. Ing. Ediansjah dari BMKG saat memberikan Bimbingan Teknik Peringatan Dini Bencana Alam di Kota Tasikmalaya, Kamis.
Dikatakannya, alat pendeteksi gempa dan tsunami itu kerjanya bersifat kolektif atau paralel sehingga jika alat pendeteksi yang satu rusak maka yang lainnya bisa membaca.
Ia mencontohkan, seperti alat pendeteksi gempa dan tsunami yang dipasang di pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis rusak, namun alat yang dipasang di pantai Cipatujah termasuk daerah lain akan mendeteksinya.
"Sehingga potensi terjadinya gempa dan tsunami tetap akan terbaca dan diketahui karena kerjanya secara pararel," katanya.
Sementara itu kerusakan alat pendeteksi itu, kata dia, tetap terpantau kondisinya, bahkan selalu dilakukan perawatan dengan baik dan perbaikan jika mengetahui dalam keadaan rusak.
Namun, ketika alat pendeteksi itu diketahui rusak, kata dia, masyarakat tidak perlu khawatir atau panik jika upaya perbaikan mengalami keterlambatan, karena alat pendeteksi lainnya tetap membaca dan terdeteksi di kantor pusat pemantauan gempa.
Sementara itu bimbingan teknik peringatan dini bencana alam itu, Ediansjah memaparkan beberapa cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kepada perwakilan masyarakat dan perwakilan dari pemerintah daerah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Ia menjelaskan, penyelamatan diri ketika gempa, masyarakat yang berada dalam ruangan yang utama dilakukan melindungi kepala dan badan dari reruntuhan bangunan saat menuju tempat terbuka.
Sedangkan ketika berada diluar bangunan, tambahnya, dapat melakukan tindakan dengan menghindar atau menjauh dari lokasi bangunan gedung, tiang listrik dan pohon.***3***
Feri P
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026