Bandung, 19/3 (ANTARA) - Penyebab dari amruknya enam rumah di enam unit rumah di RT05 RW06 Kelurahan Nyengseret Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, ialah "kirmir" atau pelengseng yang keropos sehingga tidak kuat menahan beban.
"Sebelum kejadian, 'kirmir' Sungai Citepus yang menopang rumah ambruk melengkung, tak lama setelah itu keenam rumah itu ambruk," kata Lurah Nyengseret, Wawan Setiawan, di lokasi kejadian, Jumat.
Menurut Wawan, "kirmir" di sepanjang sungai Citepus Timur dibangun sejak tahun 1974.
"Kirmirnya memang sudah tua dan belum pernah direnovasi serta sudah keropos," ujar Wawan.
Sementara itu, warga yang berada di sepanjang Sungai Citepus Timur mulai resah dengan kejadian ambruknya enam rumah tersebut.
"Khawatir lah kang, takut amruk juga rumah bapak," kata salah seorang warga yang letaknya berhadapan dengan rumah ambruk, Ali Sahir.
Ali mengatakan, sekitar satu minggu sebelum kejadian, ia telah melapor ke RT setempat bahwa ada retakan di "kirmir" Sungai Citepus Timur.
"Sejak seminggu lalu saya sudah lapor ke RT bahwa ada retakan di sini tapi ngak pernah ditanggapi," kata Ali yang tercatat sebagai RT03 RW02.
Sekitar pukul 09.30 pagi tadi, sebanyak enam unit rumah di RT05 RW06 Kelurahan Nyengseret Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, yang terletak di pinggir sungai Citepus Timur, ambruk.
"Kejadian ambruknya jam 09.30 WIB pagi tadi, untungnya tidak ada korban jiwa," kata Ketua RW06 Riki Supriyatno (55), di lokasi kejadian.
Riki menjelaskan, keenam rumah yang amruk tersebut merupakan milik Ali Suryani, H Isya Ansori, Olip Koswara, Uun, Dadang Gunawan dan Atet Gunawan.
Menurutnya, sebelum amruk warga telah mengetahui adanya retakan yang terletaknya di bagian belakang rumah yang ambruk.
"Kami sudah mengetahui retakan di enam rumah tersebut sejak kemarin sore (Kamis, 18/3) sekitar jam 17.00 WIB. Makanya, saya selaku ketua RW langsung menginstruksikan untuk evakuasi," ujarnya.
Keenam rumah tersebut, amruk bagian belakangnya seperti dapur dan kamar mandi.
"Yang ambruk itu rata-rata bagian dapur atau kamar mandi dan total retakannya mencapai 60 meter," katanya.
Dikatakannya, kejadian serupa pernah terjadi di tahun 2002 silam.
"Tahun 2002 juga pernah terjadi tapi hanya dua rumah," katanya.
Penyebab amruk keenam rumah itu, kata Riki, diduga karena "kirmir" sungai tidak kuat menahan beban rumah yang amruk.
Ajat S
