Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia meminta PT Meiloon Technology Indonesia, perusahaan yang merelokasi bisnisnya dari China ke Indonesia, memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal.

PT Meiloon Technology Indonesia, perusahaan asal Taiwan, yang merelokasi bisnisnya dari Suzhou, China, ke Indonesia, itu akan membuka 8.000 lowongan kerja dengan membangun pabrik baru di Subang, Jawa Barat.

"Meiloon investor yang sudah komitmen kepada kami bahwa akan memprioritaskan tenaga kerja dari Jawa Barat, khususnya Kabupaten Subang," kata Bahlil dalam groundbreaking pabrik Meiloon di Subang, Selasa, yang disiarkan secara daring di kanal Youtube BKPM.

Menurut Bahlil, tidak hanya tenaga kerja, ia juga mendorong perusahaan yang memproduksi speaker itu untuk memasok kebutuhan industrinya dari kawasan setempat, yaitu dari Provinsi Jawa Barat dan khususnya Kabupaten Subang.

"Ini momentum, bukan lagi zamannya orang Jakarta menganggap mereka yang paling hebat. Tidak lagi. Di bawah kepemimpinan kami, atas perintah Bapak Presiden, setiap investasi masuk di daerah harus gandeng pengusaha lokalnya, pengusaha nasional yang ada di daerah, bukan yang ada di Jakarta saja," ungkapnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Bupati Subang Ruhimat berharap kehadiran investasi asal Taiwan di wilayahnya akan dapat memberi dampak ganda bagi masyarakat sekitar.

"Kabupaten Subang tidak boleh jadi penonton tapi harus jadi bagian perputaran ekonomi Indonesia yang akan dimulai pembangunan pabrik ini. Dari 8.000 tenaga kerja terserap, saya harap 80 persen berasal dari Kabupaten Subang yang terlatih," katanya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun meminta Pemerintah Kabupaten Subang untuk mengangkat kapasitas tenaga kerja dan pengusaha lokal.

"Tugas Bupati adalah angkat kapasitas. Jangan kasih partner lokal yang tidak bisa kerja. Ini kelas Taiwan, orang Taiwan itu dikenal disiplin," pesannya.

Emil, sapaan akrabnya, juga berpesan investasi di Jawa Barat memaksimalkan potensi pengusaha setempat. Pasalnya, hal itu penting untuk mewujudkan azas keadilan lantaran 53 persen ekonomi Indonesia yang dikuasai satu persen kelompok.

"Ini jauh dari Sila Kelima. Jangan lagi pengusaha Jakarta, padahal di sini ada yang memadai, tapi tidak diajak sebagai bagian membangun dan hanya jadi penonton. Ini yang bikin 1 persen kelompok manusia menguasai 53 persen ekonomi Indonesia. Ini pelan-pelan harus diubah," pungkasnya.

Baca juga: Perusahaan relokasi asal China lakukan "groundbreaking" di Subang

Baca juga: Pemprov Jawa Barat siap tampung relokasi investasi


 

Pewarta: Ade Irma Junida

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2020